Ketidakpastian masih menyelimuti negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kekhawatiran berlanjut di AS akibat minimnya perkembangan berarti dalam pembicaraan bilateral antara kedua negara ekonomi terbesar dunia ini.
Presiden AS Donald Trump, meski kerap menekankan kemampuannya dalam bernegosiasi, belum mampu memastikan hasil yang diinginkan. Perbedaan gaya negosiasi antara pemimpin kedua negara menjadi salah satu kendala utama.
Kebuntuan Negosiasi Perdagangan AS-China
Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah kesepakatan perdagangan akan tercapai dalam tenggat waktu jeda tarif 90 hari. Berdasarkan pengalaman masa jabatan pertama Trump, Ashmore Asset Management Indonesia meragukannya.
Proses negosiasi sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tindakan Trump belakangan ini, yang menargetkan China, justru meningkatkan ketegangan.
Beberapa tindakan tersebut termasuk pencabutan izin mahasiswa China dan ancaman pembatasan chip AI untuk Huawei. Hal ini memicu kemarahan di China dan mengurangi optimisme atas penyelesaian cepat.
Dampak terhadap Kepercayaan Investor Global
Ketegangan AS-China juga menimbulkan dilema bagi The Fed. Suku bunga riil perlu diturunkan, namun inflasi dan tingkat pengangguran masih menjadi pertimbangan.
Data manufaktur dan jasa AS yang menunjukkan kontraksi pada Mei memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini. Kondisi ini membuat investor global kehilangan kepercayaan terhadap aset AS.
AS memang mengalami arus masuk investasi kuat selama dekade terakhir. Namun, pertumbuhan ini tak berkelanjutan mengingat kesehatan fiskal yang rapuh.
Pemerintah AS bermaksud mengurangi defisit fiskal. Namun, usulan pemotongan pajak baru oleh Trump melalui RUU “Beautiful Bill”, dan kegagalan efisiensi biaya oleh DOGE, semakin memperburuk situasi.
Penurunan peringkat utang AS oleh lembaga pemeringkat memperkuat kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal negara tersebut. Defisit diperkirakan mencapai USD 1,9 triliun pada tahun 2025.
Volatilitas Global dan Prospek Investasi
Volatilitas global diperkirakan tetap tinggi. Ashmore Asset Management Indonesia tetap menyarankan investasi dan diversifikasi di pasar negara berkembang.
Pasar AS saat ini diperdagangkan dengan premi signifikan. Saham Indonesia, sebaliknya, masih diperdagangkan dengan valuasi murah secara historis. Imbal hasil obligasi Indonesia bertenor 10 tahun berada di 6,77%.
Potensi reli berkelanjutan di pasar Indonesia dinilai tinggi untuk jangka menengah-panjang. Kondisi ini menawarkan alternatif investasi yang menarik di tengah ketidakpastian global.
Kesimpulannya, negosiasi perdagangan AS-China yang alot dan kebijakan ekonomi AS yang kurang stabil menciptakan volatilitas tinggi di pasar global. Meskipun demikian, peluang investasi di pasar negara berkembang, khususnya Indonesia, tetap menjanjikan dalam jangka panjang, mengingat valuasi yang atraktif dan imbal hasil obligasi yang menarik.











