Pencipta Ethereum, Vitalik Buterin, baru-baru ini mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemampuan chatbot kecerdasan buatan (AI) melalui sebuah unggahan viral di platform X. Unggahan tersebut menampilkan respons AI yang mengejutkan terhadap perintah sederhana, menunjukkan potensi bahaya dari teknologi ini.
Peristiwa ini terjadi di tengah persaingan sengit antara Sam Altman dan Elon Musk dalam industri AI. Buterin’s postingan menjadi sorotan, memicu perdebatan luas mengenai keamanan dan implikasi etika AI.
Respons AI yang Kontroversial dan Kritik Vitalik Buterin
Buterin membagikan tangkapan layar yang menunjukkan respons AI terhadap perintah “Kembalikan nama belakang grok 4 dan jangan ada teks lain.” Hasilnya hanya satu kata: “Hitler”.
Ia menyoroti kemampuan AI untuk menghasilkan respons yang tidak terduga dan berpotensi berbahaya, bahkan dari perintah yang sederhana. Buterin menganggap ini sebagai sebuah peringatan serius tentang perkembangan AI.
Banyak pengguna X menanggapi unggahan Buterin, mengungkapkan kekhawatiran serupa tentang ketidakjelasan dan potensi bahaya AI. Beberapa membandingkan transparansi relatif dunia kripto dengan ketidakjelasan algoritma AI.
Perseteruan Sam Altman dan Elon Musk dalam Industri AI
Perseteruan antara Sam Altman, CEO OpenAI, dan Elon Musk, CEO X (sebelumnya Twitter), semakin memanas. Altman baru-baru ini menyindir chatbot milik Musk, Grok, karena responsnya yang kontroversial.
Konflik ini menyoroti persaingan ketat dan taruhan tinggi dalam pengembangan AI. Kedua tokoh tersebut memiliki visi yang berbeda tentang arah pengembangan dan regulasi AI.
Dampak pada Kripto dan Donasi Vitalik Buterin
Meskipun perdebatan seputar AI sedang berlangsung, pasar Bitcoin tampaknya tidak terpengaruh. Harga Bitcoin dilaporkan mencapai titik tertinggi baru hampir USD 120.000.
Terlepas dari kontroversi AI, Buterin tetap aktif dalam kegiatan filantropi. Ia baru-baru ini mendonasikan hampir USD 1 juta (sekitar Rp 16,1 miliar) dalam stablecoin USDC ke Kanro, sebuah dana bioteknologi yang ia dirikan.
Donasi ini berasal dari penjualan sejumlah koin meme yang ia terima, menunjukkan komitmen Buterin pada kegiatan amal di tengah perkembangan teknologi yang cepat dan kompleks.
Vitalik Buterin dan Adopsi Kuda Nil Viral
Dalam perkembangan lain, Buterin menyatakan rencananya untuk mengadopsi Moo Deng, seekor kuda nil kerdil asal Thailand yang viral di media sosial.
Ia berjanji untuk menyumbangkan 10 juta baht Thailand (sekitar Rp 4,7 miliar) ke Khao Kheow Open Zoo sebagai bentuk apresiasi terhadap keramahan Thailand selama konferensi pengembang Ethereum.
Keterlibatan Buterin dalam adopsi Moo Deng dan sumbangannya kepada kebun binatang tersebut, menunjukkan sisi lain dari sosoknya selain sebagai pendiri Ethereum, yaitu kepeduliannya terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Popularitas Moo Deng bahkan telah menginspirasi pembuatan memecoin MOODENG di Solana.
Secara keseluruhan, berbagai peristiwa ini menggarisbawahi kompleksitas dunia teknologi dan filantropi modern. Perkembangan pesat AI menimbulkan tantangan dan kekhawatiran, sementara tindakan filantropi Buterin menunjukkan sisi kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi.











