Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat kehebohan di dunia perdagangan internasional. Ia mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif impor baru yang signifikan terhadap tembaga dan produk farmasi. Kebijakan ini menambah daftar panjang kebijakan kontroversial Trump yang telah memicu berbagai reaksi di pasar global. Pengumuman ini disampaikan secara tiba-tiba, menimbulkan guncangan di pasar komoditas dan saham. Kenaikan tarif yang diusulkan cukup besar, berpotensi memengaruhi perekonomian global.
Tarif Impor Tembaga 50% dan Produk Farmasi 200%
Trump menyatakan akan mengenakan tarif impor sebesar 50% untuk tembaga. Ia juga berencana menerapkan tarif hingga 200% untuk produk farmasi impor. Pengumuman ini langsung berdampak pada harga tembaga yang meroket ke level tertinggi. Pernyataan Trump tersebut disampaikan melalui CNBC pada Rabu, 9 Juli 2025. Meskipun belum dipastikan kapan tarif tersebut akan berlaku efektif, dampaknya sudah terasa di pasar.
Lonjakan Harga Tembaga
Harga tembaga melonjak drastis setelah pengumuman Trump. Penutupan perdagangan mencatat kenaikan 13,12%, angka tertinggi sejak 1989. Kenaikan ini didorong oleh spekulasi bahwa produsen tembaga dalam negeri AS akan mendapatkan keuntungan dari tarif impor. Saham Freeport-McMoRan, perusahaan tambang tembaga besar, misalnya, naik hingga 5%.
Dampak pada Industri Farmasi
Rencana tarif impor 200% untuk produk farmasi juga berpotensi menimbulkan disrupsi besar. Trump memberi kesempatan bagi perusahaan farmasi global untuk membangun pabrik di AS agar terhindar dari tarif tersebut. Namun, belum ada kejelasan mengenai tenggat waktu yang diberikan. Ketidakpastian ini akan menimbulkan kekhawatiran bagi perusahaan farmasi yang bergantung pada impor bahan baku atau produk jadi.
Impor Tembaga AS dan Ketergantungan Global
AS merupakan konsumen tembaga terbesar ketiga di dunia setelah besi dan aluminium. Data Survei Geologi AS menunjukkan Negeri Paman Sam mengimpor hampir setengah dari kebutuhan tembaganya. Ketergantungan AS pada impor tembaga membuat negara tersebut rentan terhadap fluktuasi harga global. Kebijakan proteksionis Trump ini berpotensi mengganggu rantai pasokan global dan meningkatkan inflasi.
Reaksi Pasar dan Analisis Kebijakan
Pengumuman tarif impor baru ini terpisah dari tarif balasan yang sebelumnya diumumkan Trump kepada sejumlah negara. Kebijakan ini menambah kompleksitas lanskap perdagangan global dan menimbulkan kekhawatiran akan perang dagang yang lebih luas. Para analis memprediksi kebijakan ini akan memicu retaliasi dari negara-negara lain, menciptakan ketidakpastian yang merugikan perdagangan internasional. Pengaruhnya terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global perlu dipantau secara ketat. Pasar merespon kebijakan ini dengan penuh kehati-hatian. Kenaikan harga tembaga menunjukkan dampak langsung dari kebijakan proteksionis Trump. Namun, dampak jangka panjang dari kebijakan ini masih belum bisa diprediksi secara pasti. Penting untuk memantau perkembangan selanjutnya dan menganalisis implikasi ekonomi globalnya secara komprehensif. Ketidakpastian yang diciptakan oleh kebijakan ini berpotensi menimbulkan dampak negatif yang luas.










