Ketidakpastian ekonomi global, khususnya yang dipicu oleh kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS), menciptakan peluang dan tantangan bagi berbagai sektor investasi. Salah satu aset yang menarik perhatian di tengah ketidakpastian ini adalah Bitcoin (BTC). Analis Reku Fahmi Almuttaqin melihat potensi Bitcoin sebagai safe haven dan lindung nilai terhadap pelemahan mata uang fiat serta volatilitas pasar saham. Namun, ia mengingatkan akan pentingnya kewaspadaan terhadap volatilitas jangka pendek Bitcoin.
Kebijakan tarif impor AS yang berubah-ubah memang berpotensi menimbulkan gejolak di pasar global. Oleh karena itu, investor perlu cermat dalam memantau berbagai indikator ekonomi untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.
Lonjakan Harga Tembaga dan Tekanan pada Saham Farmasi
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan tidak akan memperpanjang tarif khusus yang berakhir pada awal Agustus 2025. Ia juga mengumumkan tarif baru 50 persen untuk impor tembaga dan mengancam tarif hingga 200 persen untuk produk farmasi jika perusahaan tidak memindahkan produksi ke AS dalam setahun.
Keputusan ini berdampak signifikan pada beberapa sektor. Harga tembaga melonjak tajam, sementara saham sektor farmasi menghadapi tekanan. India dan Indonesia pun terkena dampaknya dengan tarif tambahan 10 persen karena keanggotaan mereka di BRICS. Uni Eropa juga berpotensi menghadapi tarif baru terkait ketegangan atas pajak dan denda terhadap perusahaan teknologi AS.
Kebijakan tarif ini menciptakan ketidakpastian yang lebih luas di pasar global. Potensi risiko stagflasi dan kenaikan inflasi akibat mahalnya harga impor barang utama pun semakin besar.
Tren Akumulasi Bitcoin dan Pergerakan Aset Institusional
Di tengah ketidakpastian tersebut, data on-chain metric menunjukkan tren akumulasi Bitcoin jangka panjang masih berlanjut. Rasio outflow/inflow bulanan turun ke 0,9, terendah sejak akhir bear market 2022. Ini menandakan lebih banyak Bitcoin ditarik dari bursa daripada yang masuk.
Meskipun ada tekanan jual jangka pendek yang cukup intens di salah satu bursa global, Bitcoin berhasil bertahan di kisaran US$ 100.000-110.000. Hal ini menunjukkan kekuatan tren akumulasi yang menyerap tekanan jual tersebut. CryptoQuant mencatat lebih dari 19.400 BTC dipindahkan dari wallet berusia 3-7 tahun ke wallet institusional. Ini mengindikasikan aksi akumulasi besar-besaran oleh pelaku institusi.
Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian
Kombinasi rasio inflow/outflow rendah dan pergerakan aset institusional menguatkan argumen bahwa level harga Bitcoin saat ini merupakan dasar yang kuat. Jika pola siklus sebelumnya berulang, potensi kenaikan harga baru di semester kedua 2025 cukup terbuka.
Investor jangka panjang, terutama institusional, tampaknya sedang tenang dalam mengakumulasi Bitcoin. Mereka memanfaatkan periode konsolidasi sebagai peluang membeli. Level harga sekitar US$ 100.000 bukan hanya support teknis, tetapi juga zona akumulasi fundamental untuk reli berikutnya.
Bagi investor kripto, kondisi ini bisa menjadi sinyal untuk meningkatkan posisi secara bertahap melalui strategi dollar-cost averaging (DCA). Namun, manajemen risiko tetap penting karena volatilitas jangka pendek masih mungkin terjadi. Pemantauan data inflasi, perubahan sentimen risk-off, dan rotasi modal lintas aset sangat dianjurkan.
Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh kebijakan tarif impor AS membawa konsekuensi yang kompleks bagi berbagai aset investasi. Walaupun volatilitas tetap menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan, analisis terkini menunjukkan peluang bagi investor yang berhati-hati dan menerapkan strategi investasi jangka panjang yang tepat. Penting untuk selalu memantau perkembangan pasar dan menyesuaikan strategi sesuai dengan kondisi terkini.











