Pasar kripto masih dilanda guncangan. Harga berbagai aset digital terus mengalami penurunan. Namun, di tengah ketidakpastian ini, sebuah perusahaan justru membuat langkah berani. SharpLink, perusahaan taruhan olahraga ternama, melakukan pembelian besar-besaran Ethereum (ETH).
Pembelian ini menarik perhatian banyak pihak dan menjadi perbincangan hangat di dunia kripto. Besarnya nilai transaksi dan konteks pasar yang sedang lesu membuat langkah SharpLink semakin menarik untuk diulas lebih lanjut.
SharpLink Borong Ethereum Senilai Rp 7,6 Triliun
Data dari Lookonchain, penyedia analisis on-chain, menunjukkan SharpLink mengakuisisi 176.271 ETH pada tanggal 13 Juni 2025. Harga rata-rata ETH saat itu sekitar USD 2.626.
Total nilai transaksi mencapai USD 462,95 juta, atau setara dengan sekitar Rp 7,6 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.500 per dolar AS). Ini merupakan pembelian tunggal ETH dalam jumlah yang sangat signifikan.
Strategi Perbendaharaan Berbasis Ethereum
SharpLink secara terbuka menyatakan sedang beralih ke strategi perbendaharaan yang berbasis Ethereum. Mereka menjadikan ETH sebagai aset cadangan utama perusahaan.
Meskipun belum menjelaskan alasan detail di balik keputusan ini, kemungkinan besar hal ini terkait dengan sifat Ethereum yang dapat diprogram dan potensi imbal hasil yang bisa didapatkan, terutama melalui staking. Kemampuan Ethereum dalam hal ini dianggap menguntungkan dalam jangka panjang.
Lookonchain sendiri telah menyinggung rencana ini sebelumnya sebagai bagian dari strategi SharpLink. Setelah transaksi ini, SharpLink segera menjadi pemegang ETH publik terbesar di dunia.
Keunggulan Ethereum dalam Strategi Jangka Panjang
Ethereum dipilih karena beberapa keunggulannya. Pertama, sifatnya yang dapat diprogram memungkinkan fleksibilitas dan berbagai macam aplikasi.
Kedua, potensi imbal hasil dari staking dan likuid staking menjadi daya tarik tersendiri. SharpLink dilaporkan mengalokasikan sekitar 95% ETH yang dimilikinya untuk kegiatan tersebut.
Analisis Risiko dan Potensi Keuntungan
Meskipun pembelian dalam jumlah besar ini mengesankan, harga ETH justru terus turun setelah transaksi tersebut.
Pada saat artikel ini ditulis, harga ETH berada di sekitar USD 2.513. Ini berarti SharpLink mengalami kerugian sekitar USD 20 juta atau lebih dari Rp 330 miliar.
Beberapa analis menilai waktu pembelian SharpLink kurang tepat, mengingat kondisi pasar yang masih belum stabil. Namun, strategi ini juga bisa dilihat sebagai investasi jangka panjang dengan potensi keuntungan yang besar jika pasar kripto membaik di masa mendatang.
Langkah SharpLink ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan investor. Beberapa menganggapnya berani dan visioner, sementara yang lain menilai sebagai keputusan yang berisiko.
Namun, terlepas dari kerugian sementara, keputusan ini menandai tonggak penting dalam adopsi institusional Ethereum.
Alokasi sebagian besar ETH ke staking juga turut berkontribusi pada keamanan dan stabilitas jaringan Ethereum.
Ke depannya, perkembangan harga ETH dan kinerja investasi SharpLink akan menjadi perhatian banyak pihak. Ini akan menjadi studi kasus menarik tentang strategi investasi kripto di tengah volatilitas pasar.
Apakah strategi SharpLink akan membuahkan hasil positif di masa depan, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Namun, langkah berani ini telah memberikan percakapan dan analisis yang lebih mendalam tentang potensi dan tantangan investasi kripto institusional.











