Kelompok peretas Lazarus Group asal Korea Utara kembali melancarkan serangan siber. Penyelidik on-chain ZachXBT melaporkan pencurian aset kripto senilai USD 3,2 juta atau sekitar Rp 51,7 miliar. Serangan ini memperlihatkan kerentanan infrastruktur dompet dan bursa kripto terhadap serangan siber canggih. Kejadian ini juga menambah daftar panjang aksi kejahatan siber yang dilakukan oleh Lazarus Group.
Modus Operandi dan Titik Lemah yang Ditemukan
ZachXBT mengidentifikasi celah keamanan pada jembatan lintas-rantai Garden Finance dan bursa Bybit sebagai jalur serangan. Lebih dari 80% biaya yang diterima Garden Finance diduga berasal dari pencucian uang yang dilakukan oleh Lazarus Group. ZachXBT secara langsung mempertanyakan hal ini kepada salah satu pendiri Garden Finance.
Pencurian tersebut memanfaatkan kelemahan keamanan dalam sistem kedua platform tersebut. Detail teknis mengenai eksploitasi yang digunakan masih belum dipublikasikan secara lengkap.
Dampak terhadap Industri Kripto dan Kepercayaan Pasar
Serangan ini menimbulkan guncangan kepercayaan di pasar kripto. Pengguna menjadi waspada terhadap keamanan bursa dan dompet kripto mereka. Para ahli menyarankan peningkatan protokol keamanan secara menyeluruh.
Rekomendasi peningkatan keamanan meliputi penggunaan sistem penyimpanan *cold storage* yang lebih aman dan berlapis, seperti sistem *multi-signature*. Pemantauan *on-chain* secara *real-time* juga penting untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan. Integrasi layanan analitik *blockchain* yang mampu memblokir transaksi mencurigakan secara otomatis juga sangat direkomendasikan.
Kasus ini mengingatkan pada insiden serupa yang melibatkan Bybit sebelumnya, di mana lebih dari USD 1,5 miliar aset digital berhasil dicuri dan dikaitkan dengan Lazarus Group oleh FBI. Ini menunjukkan bahwa serangan siber terhadap ekosistem kripto merupakan ancaman serius yang membutuhkan respons serius dari seluruh pelaku industri.
Regulasi yang Lebih Ketat dan Perkembangan Teknologi Keamanan
Meningkatnya ancaman siber dari aktor negara seperti Lazarus Group diperkirakan akan mendorong beberapa perubahan signifikan. Audit keamanan independen sebelum peluncuran proyek DeFi akan menjadi lebih umum.
Teknologi enkripsi *end-to-end* dan sistem deteksi anomali otomatis kemungkinan akan menjadi standar baru dalam keamanan transaksi kripto. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi dan menanggulangi potensi serangan sejak dini.
Di sisi regulasi, akan ada tekanan lebih besar pada bursa kripto untuk menerapkan proses *Know Your Customer* (KYC) dan *Anti-Money Laundering* (AML) yang lebih ketat. Kolaborasi antara bursa, perusahaan analitik *blockchain*, dan otoritas penegak hukum sangat penting untuk mengantisipasi dan mengurangi ancaman serupa di masa depan.
Kejadian ini menggarisbawahi perlunya kolaborasi yang lebih erat antara para pemangku kepentingan di industri kripto untuk membangun ekosistem yang lebih aman dan terpercaya. Peningkatan keamanan dan regulasi yang lebih ketat mutlak diperlukan untuk melindungi aset digital dan kepercayaan investor. Tantangan ke depan adalah bagaimana keseimbangan antara inovasi dan keamanan dapat tercipta untuk menjaga pertumbuhan industri kripto yang berkelanjutan.











