Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar kripto. Serangan udara Amerika Serikat ke fasilitas nuklir utama Iran memicu koreksi harga Bitcoin, yang sempat jatuh di bawah level psikologis USD 99.000. Situasi ini menyoroti pentingnya kewaspadaan, strategi, dan pemahaman jangka panjang dalam berinvestasi di aset kripto.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa penurunan harga Bitcoin tidak hanya disebabkan faktor teknikal. Sentimen risiko makro yang meningkat akibat eskalasi konflik menjadi pemicu utama. Pasar kripto saat ini sangat sensitif terhadap berita geopolitik yang menimbulkan ketidakpastian.
Harga Bitcoin Anjlok di Bawah USD 100.000
Pada Senin (23/6/2025), harga Bitcoin turun 3,8% hingga mencapai USD 98.904. Ini merupakan level terendah sejak Mei 2025. Penurunan ini diikuti oleh Ether, yang juga mengalami koreksi tajam hingga 10%.
Meskipun sempat menyentuh titik terendah, Bitcoin berhasil pulih dan kembali ke atas USD 100.000. Namun, volatilitas pasar menunjukkan betapa sensitifnya kripto terhadap sentimen global.
Caroline Mauron, salah satu pendiri Orbit Markets, mengatakan pasar mencermati perkembangan geopolitik. Perhatian investor juga akan tertuju pada pergerakan harga minyak.
Sikap Wait and See dan Dampaknya pada Investor
Antony Kusuma menilai, penurunan harga Bitcoin mencerminkan sikap wait and see pelaku institusi. Mereka menunggu kejelasan strategi pemerintah AS selanjutnya.
Investor ritel perlu memahami volatilitas sebagai bagian tak terpisahkan dari investasi kripto. Namun, koreksi tajam bisa menjadi peluang bagi investor berpengalaman.
Sejak halving Bitcoin pada April 2024, pasar masih dalam tren siklus naik. Potensi kenaikan harga Bitcoin tetap terbuka, meskipun tekanan saat ini cukup berat.
Likuidasi Besar-besaran di Pasar Kripto
Serangan AS ke Iran memicu likuidasi besar-besaran di pasar kripto. Data dari Coinglass menunjukkan total posisi taruhan yang dilikuidasi dalam 24 jam mencapai lebih dari USD 1 miliar.
Sekitar USD 915 juta berasal dari posisi long (posisi beli), dan USD 109 juta dari posisi short (posisi jual). Ini menandakan besarnya dampak sentimen negatif terhadap pasar.
Meskipun demikian, Bitcoin seringkali menjadi aset yang memimpin pemulihan dalam situasi geopolitik yang tidak menentu. Namun, investor perlu tetap waspada dan bijak dalam mengambil keputusan investasi.
Kesimpulannya, serangan AS ke Iran menunjukkan betapa rentannya pasar kripto terhadap sentimen geopolitik. Meskipun potensi pemulihan tetap ada, kewaspadaan dan strategi investasi jangka panjang sangat penting bagi para investor. Fluktuasi harga yang signifikan mengingatkan pentingnya analisis mendalam sebelum berinvestasi di aset kripto.











