Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar kripto. Serangan udara Amerika Serikat ke fasilitas nuklir utama Iran memicu koreksi harga Bitcoin, yang sempat jatuh di bawah level psikologis USD 99.000. Situasi ini menuntut kewaspadaan dan strategi jangka panjang bagi investor kripto.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan penurunan harga Bitcoin bukan hanya karena faktor teknikal. Sentimen risiko makro yang meningkat akibat serangan tersebut turut berperan besar dalam koreksi ini.
Harga Bitcoin Anjlok di Bawah USD 100.000
Setelah Presiden Donald Trump mengumumkan serangan udara AS ke Iran, harga Bitcoin langsung tertekan. Pasar aset digital pun bereaksi, membuat investor beralih dari aset berisiko seperti kripto.
Harga Bitcoin turun 3,8% hingga mencapai USD 98.904, level terendah sejak Mei 2025. Meskipun sempat menyentuh angka tersebut, Bitcoin kemudian pulih dan kembali ke atas USD 100.000.
Ether, kripto terbesar kedua, juga mengalami penurunan tajam hingga 10%, mencapai level intraday terendah sejak 8 Mei 2025.
Caroline Mauron, salah satu pendiri Orbit Markets, mengatakan pasar mengamati perkembangan geopolitik dengan cemas. Perhatian investor akan tertuju pada pergerakan harga minyak ketika pasar keuangan konvensional kembali beroperasi.
Sikap Wait and See dan Volatilitas Pasar
Antony Kusuma menjelaskan bahwa kelesuan pasar kripto mencerminkan sikap wait and see pelaku institusi terhadap keputusan AS.
Investor ritel perlu memahami bahwa volatilitas adalah bagian tak terpisahkan dari investasi kripto. Koreksi tajam, bukan selalu ancaman, tetapi dapat menjadi kesempatan bagi investor berpengalaman untuk masuk pada valuasi menarik.
Sejak halving Bitcoin pada April 2024, pasar masih dalam tren siklus naik yang biasanya berlangsung 12-18 bulan. Potensi kenaikan harga Bitcoin tetap terbuka.
Meskipun tekanan saat ini kuat, fundamental Bitcoin tetap solid. Keterbatasan suplai dan penerimaan institusi yang meningkat menjadi pendukung utama. Ini hanya dinamika jangka pendek dalam siklus kripto.
Likuidasi Besar dan Prospek Ke Depan
Serangan AS ke tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan memicu likuidasi besar di pasar kripto. Data dari Coinglass menunjukkan total posisi taruhan yang dilikuidasi dalam 24 jam mencapai lebih dari USD 1 miliar.
Sekitar USD 915 juta berasal dari posisi long dan USD 109 juta dari posisi short. Meskipun demikian, Bitcoin seringkali memimpin pemulihan dalam situasi geopolitik tidak menentu.
Investor disarankan waspada tetapi tidak panik. Amati dinamika geopolitik dan potensi suku bunga AS dalam beberapa bulan ke depan. Setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab individu.
Kesimpulannya, situasi geopolitik yang bergejolak memberikan dampak signifikan terhadap pasar kripto. Meskipun terjadi koreksi harga dan likuidasi besar, fundamental Bitcoin yang kuat tetap menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan. Kewaspadaan dan pemahaman yang mendalam tentang dinamika pasar merupakan kunci utama bagi investor untuk dapat bernavigasi di tengah volatilitas ini.











