Saham Pop Mart, produsen mainan “blind box” populer Labubu, mengalami penurunan drastis pada perdagangan Jumat, 20 Juni 2025. Penurunan ini terjadi setelah Morgan Stanley menghapus saham Pop Mart dari daftar fokusnya. Selain itu, media pemerintah China juga menyerukan regulasi yang lebih ketat terhadap mainan “blind box,” memicu kekhawatiran investor.
Pop Mart, perusahaan asal China, awalnya meraih popularitas berkat konsep “blind box”. Konsumen membeli kotak misterius seharga USD 5-10, berharap mendapatkan figur atau boneka unik yang bisa dikoleksi. Kepopuleran ini, khususnya untuk figur Labubu, telah menarik perhatian media internasional.
Morgan Stanley Menarik Saham Pop Mart
Morgan Stanley, dalam catatannya pada Rabu pekan itu, mengumumkan penggantian saham Pop Mart International Group Ltd dengan perusahaan asuransi PICC P&C dalam daftar fokus perusahaan di China dan Hong Kong. Alasan penarikan saham Pop Mart tidak dijelaskan secara rinci oleh bank investasi tersebut.
Sebelumnya, pada 10 Juni 2025, Morgan Stanley menaikkan target harga saham Pop Mart menjadi 302 dolar Hong Kong (USD 38,47). Mereka optimis terhadap potensi pertumbuhan Pop Mart jangka panjang.
Namun, analis Dustin Wei dan timnya dalam laporan 10 Juni menyatakan pasar mungkin telah memperhitungkan pertumbuhan eksponensial Pop Mart pada tahun 2025. Mereka meragukan keberlanjutan kinerja tersebut dalam beberapa kuartal mendatang, mengingat valuasi saham yang tinggi.
Saham Pop Mart mencapai rekor tertinggi intraday pada 12 Juni 2025, sebelum mengalami penurunan signifikan. Perusahaan ini telah berhasil memperluas pasarnya ke luar negeri, dengan platform penjualan daring dan toko fisik di AS dan Inggris.
Kritik Media Pemerintah dan Regulasi “Blind Box”
Surat kabar pemerintah China, People’s Daily, mengkritik fenomena “blind box”. Mereka menyoroti pengeluaran besar anak-anak dan kaum muda untuk paket misterius ini, terutama untuk mengumpulkan kartu koleksinya.
Meskipun People’s Daily tidak secara spesifik menyebut Pop Mart, artikel tersebut menyerukan regulasi yang lebih ketat terhadap industri mainan “blind box”. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi pembatasan terhadap bisnis Pop Mart.
Badan Bea Cukai China juga meningkatkan pengawasan terhadap penjualan ilegal produk tiruan Labubu. Beberapa kasus penangkapan produk tiruan Labubu yang mencoba melewati perbatasan telah dipublikasikan di media sosial.
Fenomena Global Labubu dan Prospek Pop Mart
Karakter Labubu, yang digambarkan sebagai peri, telah menjadi fenomena global dalam beberapa bulan terakhir. Media mode dan budaya internasional seperti New York Magazine dan The New York Times telah meliputnya.
Pop Mart telah meluncurkan berbagai produk Labubu, termasuk boneka, bantal, dan barang dagangan lainnya. Sebuah figur Labubu setinggi 4 kaki bahkan terjual seharga USD 170.000 dalam sebuah lelang di Beijing.
Jacob Cooke, salah satu pendiri dan CEO WPIC Marketing + Technologies, melihat tren ini sebagai minat yang meningkat terhadap mainan, tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga orang dewasa. Ia mencontohkan popularitas boneka kapibara beberapa waktu lalu.
Cooke menyebut Pop Mart “lebih beruntung dari apa pun,” namun juga menekankan pentingnya tren pasar mainan yang berkembang. Pop Mart menunjukkan kesuksesannya dengan penjualan luar negeri yang pada 2024 telah melampaui total penjualan perusahaan di tahun 2021.
Penjualan luar negeri Pop Mart pada tahun 2024 mencapai 5,1 miliar yuan (sekitar USD 624,6 juta dengan asumsi kurs saat itu), meningkat 373% dari tahun sebelumnya. Angka ini bahkan melampaui total penjualan perusahaan sebesar 4,49 miliar yuan pada tahun 2021. Pada tahun 2024, penjualan di China daratan juga meningkat menjadi 7,97 miliar yuan.
Meskipun mengalami penurunan saham baru-baru ini, kesuksesan Pop Mart dalam mengembangkan pasar internasional dan popularitas Labubu menunjukkan potensi pertumbuhan jangka panjang. Namun, seruan regulasi pemerintah dan respons pasar terhadap isu ini tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Ke depannya, strategi adaptasi dan inovasi Pop Mart akan menentukan keberlanjutan kesuksesan mereka di tengah dinamika pasar yang kompleks.











