Pasokan nikel global diprediksi mencapai 3,8 juta ton pada 2025. Indonesia menjadi penyumbang utama dengan peningkatan produksi lebih dari 2,1 juta ton. Namun, sejumlah tantangan menghambat pencapaian angka tersebut. Kendala ini meliputi kekurangan asam, permasalahan keberlanjutan lingkungan (ESG), dan keterlambatan izin.
Permintaan nikel tetap tinggi, terutama dari sektor baja tahan karat yang menyerap sekitar 68% pasokan. Namun, pertumbuhan permintaan dari sektor baterai mengalami perlambatan, hanya sekitar 10% per tahun. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya penggunaan kimia LFP (Lithium Iron Phosphate) dalam baterai.
Pasokan Nikel Kelas I Tetap Ketat
Meskipun stok nikel di London Metal Exchange (LME) tercatat sekitar 85 ribu ton, sebagian besar adalah Nikel Kelas II. Pasokan Nikel Kelas I masih terbatas.
Kondisi ini menciptakan premi harga hingga USD 3.000 per ton untuk Nikel Kelas I. Dengan biaya produksi marginal sekitar USD 15.000–15.800 per ton, potensi penurunan harga nikel dinilai terbatas.
Prospek Harga Emas dan Nikel di Tahun 2025
Harga emas rata-rata USD 3.054 per ons sejak awal tahun. Peningkatan ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk aliran masuk ETF sebesar USD 12 miliar dan pembelian oleh bank sentral sekitar 250 ton pada kuartal pertama.
Penurunan imbal hasil riil juga turut berkontribusi. Minat investor terhadap emas tinggi, terlihat dari total posisi terbuka (open interest) di bursa COMEX yang melampaui USD 225 miliar.
Indikator Pasar Tunjukkan Kejenuhan
Namun, beberapa indikator pasar mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan. Selisih harga premium emas di pasar Tiongkok telah turun signifikan, dan arus masuk ETF mulai melambat.
Meskipun demikian, dengan biaya produksi AISC (All-In Sustaining Cost) yang meningkat ke level USD 1.360 per ons, harga emas diprediksi tetap stabil. Harga emas diproyeksikan mencapai rata-rata USD 3.100 per ons pada tahun 2025.
Dampak Perbedaan Harga Komoditas terhadap Saham Tambang
Perbedaan tren harga emas dan nikel berdampak berbeda pada saham komoditas Indonesia. Kenaikan harga emas menguntungkan emiten seperti MDKA dan BRMS.
MDKA menargetkan produksi sekitar 120 ribu ons emas pada 2025, sementara BRMS akan meningkatkan volume produksi hingga 75 ribu ons. ANTM juga diproyeksikan menjual 42,5 ton emas tahun depan.
Saham Nikel Tertekan
Sebaliknya, sentimen negatif terhadap nikel, meskipun harganya stabil, menekan kinerja saham INCO dan NCKL. Margin kedua emiten ini sangat sensitif terhadap biaya asam dan selisih harga sulfat.
Akibatnya, valuasi saham tambang terbagi dua. Saham yang terpapar emas mengalami revaluasi, sedangkan saham nikel mendekati valuasi terendahnya.
Rekomendasi Investasi
Meskipun sektor pertambangan secara umum direkomendasikan netral, emiten yang terkait dengan emas menjadi pilihan utama. ANTM menjadi pilihan utama dengan rekomendasi HOLD dan target harga Rp 3.300.
MDKA dan BRMS juga menarik sebagai proxy emas ber-beta tinggi. Potensi kenaikan harga komoditas dan percepatan hilirisasi dapat menjadi katalis positif untuk sektor ini.
Meskipun tantangan masih ada, baik untuk sektor nikel maupun emas, prospek jangka menengah hingga panjang tetap menjanjikan. Perkembangan teknologi baterai dan kebijakan pemerintah akan menjadi faktor penentu utama dalam pergerakan harga kedua komoditas ini di masa mendatang. Pemantauan yang ketat terhadap faktor-faktor tersebut sangat penting bagi para investor.











