Saham beberapa bank besar milik negara mengalami pelemahan dalam sebulan terakhir. Meskipun sempat mengalami penguatan dari titik terendah pada akhir Maret 2025, tren penurunan kembali terlihat.
Penurunan ini, hingga penutupan sesi I Jumat, 20 Juni 2025, cukup signifikan. Saham BMRI turun 9,8%, BBRI turun 9,5%, dan BBNI terkoreksi 8,1%.
Peluang Investasi Dividen dari Saham Bank BUMN yang Melemah
Namun, di balik pelemahan harga saham ini, tersimpan peluang menarik bagi investor yang gemar berinvestasi jangka menengah dan mencari pendapatan pasif lewat dividen.
Analis menilai level harga saham saat ini justru meningkatkan potensi *dividend yield* yang menggiurkan.
Potensi *Yield* BMRI: Mencapai 10,1%?
Stockbit Sekuritas memproyeksikan ketiga saham bank tersebut mampu memberikan *dividend yield* minimum di atas 7%.
Proyeksi ini didasarkan pada kondisi laba tahun 2024 dan *dividend payout ratio* (DPR).
Potensi *dividend yield* BMRI sangat bergantung pada kombinasi pertumbuhan laba dan DPR.
Dengan asumsi pertumbuhan laba 0% dan DPR 70%, *dividend yield* BMRI bisa mencapai 8,6%.
Jika laba tumbuh 5% dan DPR tetap di 78%, *yield* berpotensi mencapai 10,1%.
Bahkan dalam skenario konservatif (laba turun 5% dan DPR 60%), *dividend yield* masih tetap 7,0%.
Hal ini menjadikan BMRI pilihan yang solid bagi investor yang mengejar *yield* tinggi.
BBRI: Konsisten Tawarkan *Yield* Menarik
BBRI, dengan DPR 2024 di level 86%, menawarkan potensi *dividend yield* yang sangat kompetitif.
Pada skenario moderat (pertumbuhan laba 0% dan DPR 80%), *yield* diperkirakan 8,4%.
Jika laba tumbuh 5% dan DPR kembali ke level 86%, *yield* bisa mencapai 9,5%.
Meskipun dalam simulasi pesimistis—laba turun 5% dan DPR hanya 75%—*dividend yield* BBRI tetap solid di angka 7,5%.
Stabilitas dan konsistensi pembayaran dividen BBRI membuatnya menarik bagi investor.
BBNI: Potensi *Yield* Tertinggi Sejak 2020?
BBNI, meskipun memiliki DPR terendah di antara ketiganya, berpotensi memberikan *yield* tertinggi jika DPR dinaikkan.
Dengan asumsi laba tumbuh 5% dan DPR naik ke 65% (level 2024), *dividend yield* BBNI bisa mencapai 9,6%.
Dalam skenario konservatif (laba stagnan, DPR 60%), *yield* tetap menarik di kisaran 8,4%.
Kebutuhan dana untuk ekspansi dan pendanaan bisa menekan DPR. Namun, potensi *yield* BBNI tetap menarik.
Jika DPR dinaikkan, *yield* BBNI berpotensi menjadi yang tertinggi sejak pandemi.
Kesimpulannya, meskipun harga saham bank-bank BUMN besar melemah, peluang investasi tetap terbuka lebar, terutama bagi investor yang mengejar pendapatan dividen. Analisis potensi *yield* masing-masing saham menunjukkan angka yang cukup menarik, meski perlu mempertimbangkan berbagai skenario dan risiko investasi.
Penting untuk selalu melakukan riset dan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Pertimbangkan faktor-faktor lain selain *dividend yield*, seperti kinerja perusahaan dan kondisi pasar secara keseluruhan.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan informatif dan bukan sebagai rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab pembaca sendiri.











