PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih pada kuartal I 2025. Meskipun demikian, perusahaan mencatat peningkatan produksi dan efisiensi operasional yang signifikan. Laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2 Juli 2025 menunjukkan sejumlah perkembangan penting dalam kinerja perusahaan. Hal ini menunjukkan upaya MBMA dalam menghadapi tantangan industri dan mempertahankan momentum pertumbuhan.
Pendapatan MBMA pada kuartal I 2025 mencapai USD 366 juta, turun 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (USD 444,22 juta). Penurunan pendapatan ini berdampak pada laba bersih yang merosot 39%, menjadi USD 6 juta dari USD 10,14 juta di kuartal I 2024.
Peningkatan Produksi di Tambang SCM
Produksi tambang nikel SCM meningkat secara signifikan pada kuartal I 2025. Tambang tersebut memproduksi 1,8 juta metrik ton basah (wmt) limonit, naik 54% year-on-year (YoY), dan 1,3 juta wmt saprolit, meningkat 190% YoY.
Meskipun curah hujan musiman sedikit mengurangi produksi dibandingkan kuartal sebelumnya, peningkatan ini tetap signifikan dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Hal ini menunjukkan potensi besar tambang SCM dalam mendukung bisnis MBMA ke depannya.
Perbaikan Pabrik Peleburan dan Efisiensi Biaya
Pabrik peleburan RKEF memproduksi 16.297 ton Nickel Pig Iron (NPI) pada kuartal I 2025, turun 22% YoY. Penurunan ini disebabkan oleh peningkatan produksi di PT Bukit Smelter Indonesia (BSI) dan pemeliharaan terjadwal di PT Zhao Hui Nickel (ZHN).
Namun, perbaikan pabrik peleburan telah meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasional. Hal ini berdampak positif pada laba kotor yang naik menjadi USD 18,87 juta dari USD 17,86 juta di kuartal I 2024. Laba usaha juga meningkat 10,01%, mencapai USD 11,53 juta. EBITDA pun naik 17%, menjadi USD 31 juta, menunjukkan efisiensi biaya yang baik.
Strategi Efisiensi MBMA
MBMA fokus pada efisiensi operasional dan pengelolaan biaya yang disiplin. Biaya tunai saprolit di Tambang SCM membaik menjadi USD 24,6/wmt dari USD 28,4/wmt YoY.
Meskipun biaya tunai limonit naik 10% menjadi USD 12,7/wmt, peningkatan margin tetap tercapai karena harga jual rata-rata yang lebih tinggi. Perbaikan infrastruktur dan mobilisasi kontraktor baru di Tambang SCM juga berkontribusi pada peningkatan efisiensi.
Pengembangan Pabrik HPAL dan Proyeksi Masa Depan
MBMA melanjutkan pengembangan pabrik HPAL yang terintegrasi dengan perusahaan material baterai terkemuka. PT ESG memulai produksi dari Train A pada akhir 2024, dengan Train B diharapkan menyusul pada semester kedua 2025.
PT Meiming berhasil melakukan komisioning pabrik utama dan memperoleh Izin Usaha Industri pada April 2025. PT SLNC mencapai kemajuan konstruksi sebesar 14,35%, dengan target komisioning pada semester kedua 2026. Pembangunan jalan angkut baru antara Tambang SCM dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) juga terus berlanjut.
Proyek-proyek ini memperkuat platform produksi nikel MBMA yang efisien, terintegrasi, dan berbiaya rendah. MBMA tetap berkomitmen untuk meningkatkan keunggulan operasional dan menciptakan nilai berkelanjutan. Dengan sejumlah inisiatif strategis yang dilakukan, MBMA menunjukkan optimisme dalam menghadapi tantangan industri dan mempertahankan posisi kompetitifnya di masa depan.











