PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih pada kuartal I 2025. Penurunan ini memberikan gambaran menarik tentang tantangan dan keberhasilan perusahaan dalam industri pertambangan dan pengolahan nikel. Analisis lebih lanjut akan mengungkap faktor-faktor kunci di balik kinerja keuangan MBMA.
Pendapatan MBMA turun 18% menjadi USD 366 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu USD 444,22 juta. Hal ini berdampak pada laba bersih yang merosot hingga 39%, mencapai USD 6 juta dari USD 10,14 juta pada kuartal I 2024.
Peningkatan Produksi di Tambang SCM
Meskipun pendapatan menurun, MBMA mencatat peningkatan produksi yang signifikan di tambang nikel SCM. Hal ini menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam menganalisis kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan.
Produksi limonit di Tambang SCM mencapai 1,8 juta metrik ton basah (wmt), meningkat 54% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, produksi saprolit naik drastis hingga 190% YoY, mencapai 1,3 juta wmt.
Meskipun curah hujan musiman sedikit menurunkan produksi dibandingkan kuartal sebelumnya, peningkatan produksi secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya tetap menopang pertumbuhan berkelanjutan MBMA.
Pabrik peleburan RKEF memproduksi 16.297 ton Nickel Pig Iron (NPI) pada kuartal I 2025, turun 22% YoY. Penurunan ini disebabkan oleh peningkatan produksi yang sedang berlangsung di PT Bukit Smelter Indonesia (BSI) dan pemeliharaan terjadwal di PT Zhao Hui Nickel (ZHN).
Perbaikan Pabrik dan Efisiensi Biaya
Perbaikan di pabrik peleburan telah meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasional MBMA. Hal ini diproyeksikan akan berdampak positif pada pengurangan biaya di masa depan.
Presiden Direktur MBMA, Teddy Oetomo, menyatakan bahwa kinerja operasional yang kuat di kuartal I 2025 didorong oleh pertumbuhan signifikan di Tambang SCM, peningkatan efisiensi biaya, dan peningkatan margin NPI. Perbaikan lini BSI kedua direncanakan pada paruh kedua 2025.
MBMA fokus pada efisiensi operasional dan pengelolaan biaya yang disiplin untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Perbaikan infrastruktur, mobilisasi kontraktor baru, dan percepatan aktivitas di Tambang SCM turut berkontribusi pada peningkatan efisiensi.
Biaya tunai saprolit di Tambang SCM membaik menjadi USD 24,6/wmt dari USD 28,4/wmt YoY. Peningkatan ini disebabkan oleh pengurangan biaya penambangan, pengangkutan, dan royalti.
Meskipun biaya tunai limonit naik 10% menjadi USD 12,7/wmt akibat biaya pengangkutan dan penjualan yang lebih tinggi, peningkatan margin tetap tercapai karena harga jual rata-rata yang lebih tinggi.
Pengembangan Pabrik HPAL dan Proyeksi Masa Depan
Pembangunan jalan angkut baru yang menghubungkan Tambang SCM dengan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus berlanjut. Jalan ini bertujuan untuk mengurangi biaya logistik dan meningkatkan kapasitas pengangkutan saprolit.
MBMA terus mengembangkan pabrik HPAL, bekerja sama dengan perusahaan material baterai terkemuka melalui pengembangan PT ESG New Energy Material, PT Meiming New Energy Material, dan PT Sulawesi Nickel Cobalt (PT SLNC).
PT ESG memulai produksi dari Train A pada akhir 2024, dengan Train B diharapkan menyusul pada semester kedua 2025. Biaya operasional PT ESG diperkirakan akan menurun seiring dengan integrasi Feed Preparation Plant (FPP) baru.
PT Meiming telah berhasil melakukan komisioning pabrik utama dan memperoleh Izin Usaha Industri pada April 2025. Sementara itu, PT SLNC mencapai kemajuan konstruksi sebesar 14,35%, dengan target komisioning pada semester kedua 2026.
Pabrik AIM, yang dirancang untuk memproses 1 juta ton bijih pirit per tahun, juga mencapai tonggak penting pada kuartal pertama 2025. Komisioning di keempat fasilitas berlangsung positif.
MBMA memperkuat platform produksi nikel yang efisien, terintegrasi, dan dapat ditingkatkan skalanya, serta berbiaya rendah. Perusahaan tetap fokus pada keunggulan operasional dan penciptaan nilai berkelanjutan.
Secara keseluruhan, meskipun MBMA mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih pada kuartal I 2025, peningkatan produksi dan efisiensi operasional, dikombinasikan dengan pengembangan pabrik HPAL yang berkelanjutan, menunjukkan potensi pertumbuhan yang positif di masa depan. Pemantauan perkembangan proyek-proyek hilir akan menjadi kunci untuk menilai kinerja perusahaan selanjutnya.











