PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menghadapi tantangan penurunan permintaan batu bara global, terutama dari China. Negara tersebut mengurangi impor karena peningkatan produksi domestik dan stok yang tinggi. Sebagai respons, PTBA menerapkan strategi untuk memperkuat daya tahan bisnis.
Salah satu langkah kunci adalah diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan efisiensi operasional. Penurunan harga batu bara, yang sempat berada di bawah US$ 100 per metrik ton, juga mendorong perusahaan untuk bertindak cepat dan tepat.
Strategi PTBA Hadapi Penurunan Permintaan Batu Bara
PTBA berkomitmen untuk memperluas pasar ekspornya. Ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap penurunan permintaan dari pasar utama seperti China dan India.
Langkah lain yang diambil adalah peningkatan efisiensi biaya operasional. Hal ini penting untuk menjaga profitabilitas perusahaan di tengah harga batu bara yang fluktuatif.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menekankan pentingnya strategi ini. Perusahaan berupaya meningkatkan daya tahan bisnis menghadapi ketidakpastian pasar global.
Ekspansi Pasar dan Optimalisasi Produksi
PTBA telah aktif memperluas pasar ekspornya ke beberapa negara di Asia Tenggara dan Asia Timur. Negara-negara tersebut antara lain Vietnam, Thailand, Korea Selatan, dan sebagian ke Jepang.
Rencana akuisisi tambang batu bara berkalori tinggi ditangguhkan sementara. PTBA fokus pada optimalisasi produksi dan penjualan dari tambang yang sudah ada.
Arsal Ismail menjelaskan alasan penundaan akuisisi. Kondisi harga batu bara yang fluktuatif membuat perusahaan memprioritaskan optimalisasi aset yang sudah dimiliki.
Kinerja Keuangan Kuartal I 2025 dan Proyeksi Ke Depan
PTBA mencatat pendapatan Rp 9,96 triliun pada kuartal I 2025. Laba bersih mencapai Rp 391,48 miliar, dan EBITDA sebesar Rp 1,05 triliun.
Penjualan ekspor meningkat signifikan, mencapai 5,09 juta ton atau naik 34 persen secara tahunan. Penjualan domestik juga mencapai 5,19 juta ton.
Total penjualan pada kuartal I 2025 mencapai 10,28 juta ton, tumbuh 7 persen secara tahunan. Kinerja positif ini dicapai meskipun harga batu bara terkoreksi.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Koreksi harga batu bara ICI-3 sebesar 12 persen secara tahunan menjadi US$ 69,37 per ton. Harga batu bara Newcastle juga terkoreksi 17 persen menjadi US$ 104,56 per ton.
Kenaikan harga BBM sebesar 10 persen secara tahunan juga mempengaruhi biaya operasional. Namun, PTBA tetap mampu menjaga kinerja keuangan yang positif.
Target Produksi dan Penjualan PTBA di Tahun 2025
PTBA menargetkan produksi batu bara sebesar 50,05 juta ton di tahun 2025. Target penjualan juga ditetapkan sebesar 50,09 juta ton.
Target angkutan batu bara di tahun 2025 adalah 43,25 juta ton. Perusahaan terus berupaya memaksimalkan potensi pasar domestik dan ekspor.
PTBA juga akan terus menerapkan efisiensi berkelanjutan. Hal ini penting untuk menghadapi dinamika pasar batu bara yang penuh tantangan.
Secara keseluruhan, PTBA menunjukkan kesiapannya menghadapi tantangan penurunan permintaan batu bara global. Dengan strategi diversifikasi pasar, peningkatan efisiensi, dan optimalisasi produksi, perusahaan optimistis dapat mempertahankan kinerja yang baik di masa depan. Perusahaan tetap fokus pada pengelolaan risiko dan adaptasi terhadap perubahan kondisi pasar untuk memastikan keberlanjutan bisnisnya.











