PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menghadapi tantangan penurunan permintaan batu bara global, terutama dari China. Penurunan ini disebabkan peningkatan produksi domestik dan stok batu bara yang tinggi di negara tersebut. Untuk menghadapi situasi ini, PTBA telah merancang strategi yang komprehensif.
Strategi utama PTBA difokuskan pada dua hal: perluasan pasar ekspor dan peningkatan efisiensi biaya operasional. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah fluktuasi harga komoditas.
Strategi PTBA Menghadapi Penurunan Permintaan Batu Bara
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menjelaskan bahwa penurunan harga batu bara dan berkurangnya impor dari negara-negara utama telah mendorong PTBA untuk memperkuat daya tahan bisnis. Indeks ICI sempat menunjukkan harga batu bara Indonesia di bawah USD 100 per metrik ton, meskipun belakangan ada sedikit pemulihan.
Meskipun demikian, PTBA tetap optimis. Perusahaan berencana meningkatkan volume produksi hingga sekitar 50 juta metrik ton pada tahun 2025. Target penjualan diproyeksikan tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.
Pelemahan permintaan dari China dan India diakui Arsal dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik global. Perang dagang yang belum selesai berdampak pada pertumbuhan ekonomi kedua negara, sehingga berimbas pada penurunan permintaan batu bara untuk pembangkit listrik.
Ekspansi Pasar Ekspor Menjadi Fokus Utama
Untuk mengantisipasi penurunan permintaan dari pasar utama, PTBA aktif memperluas pasar ekspornya. Beberapa negara di Asia Tenggara dan Asia Timur menjadi target, termasuk Vietnam, Thailand, Korea Selatan, dan sebagian Jepang.
Rencana akuisisi tambang batu bara berkalori tinggi yang sempat dipertimbangkan tahun lalu, kini ditangguhkan. PTBA memilih untuk fokus mengoptimalkan produksi dan penjualan dari tambang yang sudah ada.
Arsal menekankan bahwa dengan kondisi harga batu bara yang fluktuatif, memaksimalkan potensi tambang yang ada menjadi prioritas utama untuk menjaga stabilitas operasional perusahaan.
Kinerja Keuangan Kuartal I 2025 dan Proyeksi ke Depan
PTBA membukukan kinerja positif pada kuartal I 2025, dengan pendapatan mencapai Rp 9,96 triliun, laba bersih Rp 391,48 miliar, dan EBITDA Rp 1,05 triliun. Total aset perusahaan juga meningkat menjadi Rp 42,26 triliun.
Penjualan ekspor pada kuartal I 2025 mencapai 5,09 juta ton, naik 34 persen secara tahunan. Penjualan domestik mencapai 5,19 juta ton. Total penjualan mencapai 10,28 juta ton, tumbuh 7 persen secara tahunan.
Meskipun harga batu bara ICI-3 dan Newcastle mengalami koreksi secara tahunan, PTBA tetap mampu mencatatkan kinerja yang baik. Hal ini menunjukkan keberhasilan strategi perusahaan dalam mengelola risiko dan memanfaatkan peluang pasar.
Corporate Secretary PTBA, Nico Chandra, menyatakan bahwa kinerja positif ini dicapai meskipun terdapat berbagai tantangan, termasuk koreksi harga batu bara akibat fluktuasi pasar global. PTBA berupaya memaksimalkan potensi pasar domestik dan peluang ekspor.
Untuk tahun 2025, PTBA menargetkan produksi batu bara sebesar 50,05 juta ton, penjualan 50,09 juta ton, dan angkutan 43,25 juta ton. Perencanaan matang dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan pasar dan faktor-faktor dinamis yang berpengaruh.
Secara keseluruhan, PTBA menunjukkan kesiapannya dalam menghadapi tantangan penurunan permintaan batu bara global. Strategi diversifikasi pasar dan peningkatan efisiensi, dikombinasikan dengan kinerja keuangan yang solid, menjadi kunci keberhasilan perusahaan dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan bisnis di masa mendatang. Kemampuan beradaptasi terhadap fluktuasi harga dan kondisi geopolitik menjadi poin penting dalam keberhasilan strategi PTBA ini.











