Prospek sektor ritel di Indonesia pada paruh kedua tahun 2025 diprediksi masih akan menghadapi tantangan. Hal ini terutama disebabkan oleh daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih sejak awal tahun. Kondisi ekonomi yang masih fluktuatif turut memberikan dampak signifikan terhadap kinerja sektor ini.
Kiwoom Sekuritas Indonesia, dalam analisanya, mencatat tiga kali deflasi secara bulanan pada Januari, Februari, dan Mei 2025. Ini menjadi indikator kuat melemahnya daya beli masyarakat.
Tantangan Sektor Ritel di Semester II 2025
Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai beberapa faktor utama yang menjadi penghambat pertumbuhan sektor ritel. Nilai tukar Rupiah yang fluktuatif terhadap dolar AS mempengaruhi biaya impor, khususnya untuk barang elektronik dan produk rumah tangga.
Suku bunga yang belum menunjukkan pelonggaran konsisten juga turut menekan permintaan ritel. Hal ini berdampak pada pembiayaan kredit konsumsi dan pembelian barang-barang premium. Akibatnya, ekspansi bisnis di sektor ritel menjadi terhambat.
Sentimen Positif dan Rekomendasi Saham
Terdapat beberapa sentimen positif yang berpotensi mendorong pertumbuhan sektor ritel pada semester II 2025. Potensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dapat menstimulasi aktivitas ekonomi dan meningkatkan daya beli.
Program stimulus ekonomi pemerintah juga diharapkan dapat memberikan dampak positif. Dinamika global, terutama terkait tarif impor AS, perlu dipantau karena dapat berpengaruh pada harga barang impor. Meskipun demikian, Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi *neutral* untuk sektor ritel.
Saham Pilihan Kiwoom Sekuritas
Kiwoom Sekuritas merekomendasikan beberapa saham pilihan di sektor ritel dengan prediksi harga sasaran (TP) sebagai berikut:
- ACES (Buy, TP: 684)
- AMRT (Buy, TP: 2.640)
- MAPI (Buy, TP: 1.450)
Perubahan Perilaku Konsumen dan Adaptasi Ritel Modern
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjelaskan penyebab banyaknya ritel modern yang tutup. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan gaya belanja masyarakat yang kini lebih sering membeli kebutuhan harian.
Konsumen cenderung memilih berbelanja di tempat terdekat. Ritel modern yang kurang inovatif dan hanya berfokus pada penjualan tanpa memberikan pengalaman berbelanja yang menarik, akan kesulitan bersaing dengan UMKM.
Strategi Adaptasi yang Dibutuhkan
Mendag menyoroti pentingnya inovasi bagi ritel modern. Pusat perbelanjaan seperti mal dan *department store* perlu menawarkan nilai tambah, misalnya area kuliner, tempat nongkrong, atau area berkumpul.
Hal ini penting untuk menarik pengunjung dan bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat. Ritel modern harus mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan tren terkini untuk tetap relevan.
Sektor ritel di Indonesia menghadapi tantangan yang kompleks di semester II 2025. Meskipun demikian, potensi penurunan suku bunga, stimulus pemerintah, dan adaptasi ritel modern terhadap perubahan perilaku konsumen dapat menjadi pendorong pertumbuhan. Keberhasilan sektor ritel bergantung pada kemampuan beradaptasi dan inovasi di tengah dinamika ekonomi yang tak menentu.











