Penipuan kripto semakin canggih dan meluas, menyasar korban di seluruh dunia. Pelaku memanfaatkan teknik rekayasa sosial yang kompleks untuk mencuri aset digital para pengguna. Modus terbaru melibatkan penyamaran sebagai karyawan startup teknologi, menawarkan imbalan kripto, dan mengunduh malware melalui aplikasi palsu.
Kejahatan siber ini telah menjadi ancaman serius di tahun 2025. Darktrace, perusahaan keamanan siber, melaporkan peningkatan signifikan dalam aktivitas penipuan yang memanfaatkan platform media sosial dan situs web palsu.
Modus Penipuan yang Makin Halus
Para penipu membangun citra perusahaan teknologi fiktif yang kredibel. Mereka membuat profil palsu di media sosial, artikel di Medium, dan repositori kode di GitHub.
Target utama adalah individu yang aktif di komunitas kripto dan teknologi. Korban dihubungi melalui pesan pribadi di X (Twitter), Telegram, atau Discord.
Pelaku menawarkan pembayaran kripto sebagai imbalan pengujian aplikasi mereka. Setelah aplikasi diunduh, malware akan diam-diam mencuri data penting, termasuk kredensial dompet kripto.
Baik pengguna Windows maupun MacOS rentan terhadap serangan ini. Serangan ini serupa dengan kampanye Meeten pada Desember 2024, yang juga menggunakan rekayasa sosial tingkat tinggi.
Peningkatan Kecanggihan Metode Penipuan
Metode penipuan kripto terus berkembang, menggunakan teknik yang lebih canggih. Selain rekayasa sosial, pelaku memanfaatkan plugin peramban palsu, dompet keras yang dimodifikasi, dan situs revoker palsu.
Teknik penipuan kini juga melibatkan manipulasi psikologis. “Pig butchering” misalnya, merupakan skema yang membangun hubungan emosional dengan korban sebelum melakukan penipuan.
Skema “four-dollar wrench attack” melibatkan tekanan psikologis, bahkan kekerasan, untuk mendapatkan akses ke dompet kripto korban. Pelaku bahkan bisa menyamar sebagai karyawan platform kripto terkenal.
Jenis Serangan dan Pelaku
Serangan kripto tidak hanya dilakukan oleh individu, tetapi juga kelompok terorganisir. Beberapa serangan dikaitkan dengan grup siber yang berafiliasi dengan Korea Utara.
Dana hasil pencurian kripto digunakan untuk mendanai aktivitas ilegal lainnya. Ini menunjukkan skala dan dampak yang luas dari kejahatan ini.
Respon Otoritas Dunia Terhadap Ancaman
Pemerintah dan otoritas di berbagai negara meningkatkan upaya untuk mengatasi kejahatan kripto. Tiongkok memperingatkan masyarakatnya tentang skema penggalangan dana ilegal yang menggunakan stablecoin.
Amerika Serikat mendakwa dua individu atas penipuan investasi kripto senilai lebih dari $650 juta. Kasus ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Modus penipuan layanan pelanggan palsu juga meningkat. Pelaku menyamar sebagai tim dukungan platform kripto ternama untuk mendapatkan akses akun korban.
Pengguna kripto diimbau untuk tetap waspada dan tidak mudah percaya pada tawaran yang menggiurkan. Verifikasi informasi dan sumber selalu penting untuk mencegah menjadi korban penipuan.
Dengan semakin canggihnya teknologi dan metode penipuan, kesadaran dan kewaspadaan pengguna kripto sangatlah krusial. Kerjasama antara otoritas, platform kripto, dan pengguna sendiri dibutuhkan untuk melindungi aset digital dan mencegah kerugian yang lebih besar di masa mendatang. Peningkatan literasi digital dan keamanan siber menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang ini.











