Pasar aset digital global mengalami sedikit koreksi pada Jumat, 4 Juli 2025, setelah harga Bitcoin gagal bertahan di level US$ 109.000. Namun, peristiwa menarik terjadi di tengah penurunan tersebut. Dua dompet Bitcoin yang telah lama tidak aktif mendadak melakukan transaksi, memindahkan total 20.000 BTC senilai sekitar US$ 2,18 miliar atau setara Rp 35,3 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.189 per US$). Kejadian ini langsung menarik perhatian komunitas kripto global.
Aktivitas ini memicu spekulasi dan analisis mendalam mengenai pergerakan pasar Bitcoin. Data on-chain memberikan wawasan lebih lanjut mengenai asal usul dan potensi dampak transaksi besar ini terhadap dinamika pasar.
Dua Dompet Bitcoin Lama Aktif Kembali
Data dari Lookonchain mengidentifikasi dua dompet yang terlibat. Dompet pertama, dengan alamat 12tLs9c9Rs, membeli 10.000 BTC pada April 2011 ketika harga Bitcoin hanya US$ 0,78. Investasi awal sebesar US$ 7.805 atau sekitar Rp 126,4 juta kini bernilai lebih dari Rp 17,6 triliun. Keuntungan yang diraih pemilik dompet ini mencapai lebih dari 140.000 kali lipat.
Tidak lama setelahnya, dompet kedua dengan alamat 1KbrSKrT3Ge juga memindahkan 10.000 BTC. Total transaksi kedua dompet tersebut mencapai US$ 2,18 miliar, menunjukkan skala transaksi yang signifikan.
Sampai saat ini belum ada konfirmasi apakah kedua dompet tersebut dimiliki oleh individu atau entitas yang sama. Misteri di balik kepemilikan dompet ini menambah intrik pada peristiwa tersebut.
Bitcoin Mendekati Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Harga Bitcoin sendiri menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Menurut Cryptopoliyan News, harga Bitcoin telah meningkat 89% dalam setahun terakhir dan naik lebih dari 3% dalam 30 hari terakhir. Pada saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 108.895, sangat dekat dengan rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 112.000.
Meskipun demikian, pasar masih menunjukkan tanda-tanda keraguan. Meskipun dana ETF Bitcoin di AS terus mengakumulasi BTC dan beberapa perusahaan besar memasukkan Bitcoin ke dalam neraca keuangan mereka, pasar belum sepenuhnya menunjukkan arah yang pasti. Pertimbangan momentum bullish dan kehati-hatian makroekonomi masih menjadi pertarungan yang ketat.
Volume perdagangan kripto global dalam 24 jam terakhir mencapai US$ 109,4 miliar. Kapitalisasi pasar total berada di angka US$ 3,35 triliun, didominasi oleh pasar stablecoin dengan total kapitalisasi US$ 264,4 miliar. USDT milik Tether masih memimpin dengan kapitalisasi pasar US$ 158,4 miliar.
Pekan Kripto di Kongres AS dan Regulasi Aset Digital
Aktivitas transfer Bitcoin yang besar ini terjadi bersamaan dengan momentum penting di Amerika Serikat. Kongres AS akan mengadakan “Crypto Week”, rangkaian sidang yang dijadwalkan pada 14-18 Juli 2025. Dalam sidang ini, tiga Rancangan Undang-Undang (RUU) krusial akan dibahas.
Ketiga RUU tersebut berpotensi untuk merevolusi lanskap regulasi aset digital di AS. RUU tersebut antara lain CLARITY Act (mengenai struktur pasar kripto), Anti-CBDC Surveillance State Act (mengenai penolakan mata uang digital bank sentral), dan GENIUS Act (mengenai regulasi stablecoin). Ketiga RUU tersebut diusung oleh Partai Republik (GOP).
Partai Republik berharap dapat menciptakan lingkungan regulasi yang inovatif dan ramah bisnis. Mereka juga ingin memperkuat posisi AS sebagai pusat ekosistem aset digital global.
Tujuan Utama GOP dalam Regulasi Aset Digital
GOP menempatkan privasi, desentralisasi, dan kebebasan pasar sebagai pilar utama. Mereka meyakini bahwa dominasi global dalam sektor ini penting untuk menjaga kedaulatan keuangan nasional, terutama di tengah meningkatnya adopsi CBDC di berbagai negara.
Melalui RUU-RUU ini, GOP berupaya melindungi hak keuangan masyarakat Amerika dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk inovasi dan pertumbuhan ekonomi.
Kejadian perpindahan Bitcoin dalam jumlah besar dan agenda Kongres AS mengenai regulasi aset digital menandakan babak baru dalam perjalanan industri kripto. Baik investor maupun regulator menghadapi tantangan dan peluang besar di masa depan. Perkembangan selanjutnya akan menentukan arah industri ini ke depan.











