PT Pam Mineral Tbk (NICL) berhasil menorehkan kinerja gemilang pada tahun buku 2024 yang berakhir 31 Desember 2024. Emiten sektor pertambangan yang dikendalikan Christopher Sumasto Tjia melalui PT PAM Metalindo ini membukukan penjualan sebesar Rp 1,44 triliun, meningkat 26,37% dibandingkan tahun 2023 (Rp 1,14 triliun).
Prestasi ini diraih di tengah penurunan permintaan nikel di Indonesia. Pam Mineral mampu meningkatkan volume penjualan nikel dari 1.848.007,82 mt pada tahun sebelumnya menjadi 2.300.914,78 mt di tahun 2024. Kenaikan ini menunjukkan strategi penjualan yang efektif.
Efisiensi biaya produksi juga menjadi kunci keberhasilan Pam Mineral. Laba Kotor melonjak drastis dari Rp 136,66 miliar di tahun 2023 menjadi Rp 517,26 miliar di tahun 2024. Hal ini menghasilkan marjin laba kotor yang signifikan, meningkat dari 11,97% menjadi 35,86%.
Harga Nikel Turun, Namun Kinerja Tetap Moncer
Meskipun harga acuan nikel domestik turun 9,19% sejak semester kedua 2024, Pam Mineral tetap optimis dan mampu menghadapi tantangan tersebut. Keberhasilan ini menunjukkan ketahanan dan strategi bisnis yang tangguh menghadapi fluktuasi harga komoditas.
“Pada tahun 2024, Perseroan telah mendapatkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) periode 2024-2026 dengan total volume penjualan yang telah disetujui sebesar 7.000.000 WMT. Perseroan berhasil menggenjot produksi dan meningkatkan volume penjualan sesuai dengan kapasitas RKAB. Selain itu juga Perseroan berhasil melakukan efisiensi biaya produksi,” ungkap Direktur Utama PT Pam Mineral Tbk, Ruddy Tjanaka, dalam keterangan resmi pada Rabu (26/3/2025).
Peningkatan laba kotor berdampak positif pada laba usaha. Laba usaha melonjak tajam dari Rp 45,16 miliar di tahun 2023 menjadi Rp 414,10 miliar di tahun 2024, meningkat sebesar 816,88%. Selain peningkatan volume penjualan, efisiensi beban umum dan administrasi juga berkontribusi signifikan.
Laba Bersih Melonjak 1.081,25%
Efisiensi biaya dan peningkatan volume penjualan mendorong laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat drastis sebesar 1.081,25% year-on-year (yoy). Laba bersih naik dari Rp 26,92 miliar di tahun 2023 menjadi Rp 318,04 miliar di tahun 2024. Laba per saham dasar juga meningkat signifikan, dari 2,65 menjadi 29,90.
Keberhasilan ini juga didukung oleh strategi pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Pam Mineral memiliki dua Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, dengan total sumber daya yang cukup besar. Perusahaan juga berkomitmen pada eksplorasi berkelanjutan dan konservasi cadangan mineral.
Strategi diversifikasi produk juga diterapkan, dengan mengelompokkan bijih nikel berdasarkan kadar nikel (low grade, middle grade, dan high grade). Pengolahan bijih kadar rendah (low grade) yang sebelumnya dianggap limbah menjadi salah satu kunci peningkatan efisiensi.
Sumber daya daerah IUP Pam Mineral mencapai 12,771 juta ton dengan kadar Ni 1,20%, sementara IUP entitas anak, PT Indrabakti Mustika (IBM), memiliki sumber daya 74,497 juta ton dengan kadar Ni 1,10%. Ini menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan ke depannya.
Total Aset dan Kondisi Keuangan yang Sehat
Dari sisi neraca, total aset Pam Mineral pada tahun 2024 mencapai Rp 1,05 triliun, naik sekitar 22,56% dari Rp 856,83 miliar di tahun 2023. Kondisi keuangan perusahaan sangat sehat, ditunjukkan oleh rasio utang terhadap ekuitas yang rendah (19,58%) dan tanpa beban utang bank.
Total ekuitas juga meningkat dari Rp 745,47 miliar menjadi Rp 878,18 miliar di tahun 2024, didorong oleh peningkatan laba yang signifikan. “Kami cukup optimis atas pencapaian Perseroan di tahun 2024, karena berhasil meningkatkan kinerja operasional dan kinerja keuangan tanpa adanya beban utang Bank,” tegas Ruddy.
Prospek ke depan terlihat cerah. Penutupan beberapa tambang nikel di negara lain dengan biaya produksi tinggi (Australia, Filipina, dan beberapa negara Eropa) berpotensi mengurangi pasokan nikel global dan meningkatkan harga. Hal ini diprediksi menguntungkan Indonesia sebagai produsen nikel terbesar, termasuk Pam Mineral.
Peningkatan permintaan nikel dunia untuk baterai kendaraan listrik dan baja nirkarat juga akan menjadi katalis positif. Ditambah rencana hilirisasi industri nikel di Indonesia, prospek Pam Mineral untuk pertumbuhan berkelanjutan semakin terbuka lebar.
Secara keseluruhan, Pam Mineral menunjukkan kinerja keuangan yang sangat impresif di tahun 2024, mengatasi berbagai tantangan dan memanfaatkan peluang pasar dengan strategi yang efektif dan berkelanjutan. Ke depan, perusahaan memiliki potensi besar untuk terus bertumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan nikel global dan kebijakan hilirisasi di Indonesia.











