Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Qatar pada Senin, 23 Juni 2025. Serangan ini menyusul pernyataan Iran sebelumnya terkait rencana penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi lalu lintas minyak dunia dan perdagangan global.
Peristiwa ini berdampak signifikan terhadap pasar kripto, khususnya Bitcoin. Harga Bitcoin sempat anjlok di bawah US$ 100.000, untuk pertama kalinya dalam 46 hari. Namun, pergerakan harga ini bersifat sementara dan Bitcoin segera pulih kembali di atas angka tersebut.
Reaksi Pasar Kripto terhadap Serangan Iran
Anjloknya harga Bitcoin di bawah US$ 100.000 hingga mencapai US$ 98.115, merupakan reaksi awal pasar terhadap eskalasi konflik. Penurunan tersebut mencerminkan sentimen ketakutan dan aksi jual besar-besaran oleh investor.
Namun, dalam beberapa jam, Bitcoin mampu melampaui US$ 100.000 lagi. Pemulihan cepat ini menunjukkan bahwa sebagian investor masih memandang Bitcoin sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Bitcoin sebagai Aset Safe Haven
Para analis di Bitunix melihat pemulihan harga Bitcoin sebagai tanda bahwa investor masih melihat kripto sebagai tempat berlindung yang aman. Portabilitas dan kemudahan transfer menjadi keunggulan Bitcoin dibandingkan aset safe haven tradisional seperti emas.
Menurut analis Bitunix, jika konflik Timur Tengah semakin memburuk, permintaan terhadap aset safe haven, termasuk Bitcoin, akan meningkat. Hal ini berpotensi mendorong Bitcoin ke level tertinggi sepanjang masa.
Namun, peningkatan volatilitas dan potensi intervensi kebijakan perlu diwaspadai oleh investor. Analis menyarankan agar investor tetap berhati-hati dan menerapkan strategi manajemen risiko yang tepat.
Likuidasi Besar-besaran di Pasar Kripto
Serangan AS ke fasilitas nuklir Iran juga memicu likuidasi besar-besaran di pasar kripto. Data dari Coinglass menunjukkan total likuidasi posisi melebihi US$ 1 miliar dalam 24 jam.
Sebagian besar likuidasi berasal dari posisi long (posisi beli), menunjukkan banyak investor yang terpaksa menutup posisi beli mereka karena penurunan harga yang tajam. Meskipun demikian, Bitcoin seringkali menjadi aset yang memimpin pemulihan dalam situasi geopolitik yang tidak pasti.
Sebelumnya, harga Bitcoin juga sempat turun signifikan setelah pengumuman serangan udara AS ke Iran. Penurunan tersebut mencapai 3,8% hingga US$ 98.904, level terendah sejak Mei 2025. Namun, harga Bitcoin kembali pulih ke atas US$ 100.000.
Ether, kripto terbesar kedua, juga mengalami penurunan tajam hingga 10%, mencapai level terendah sejak 8 Mei 2025. Caroline Mauron dari Orbit Markets mengatakan pasar mengamati perkembangan geopolitik dengan cemas.
Ia menambahkan bahwa pergerakan harga minyak akan menjadi fokus perhatian investor selanjutnya. Peristiwa ini menunjukkan tingginya volatilitas pasar kripto dan kerentanannya terhadap sentimen global.
Investor perlu mempertimbangkan hal ini dalam strategi investasi mereka. Analis merekomendasikan penggunaan stop-loss order dan pemantauan pasar secara cermat untuk meminimalisir risiko.
Kesimpulannya, eskalasi konflik di Timur Tengah mempengaruhi pasar kripto secara signifikan, namun juga menunjukkan potensi Bitcoin sebagai aset safe haven. Volatilitas tinggi tetap menjadi ciri khas pasar kripto, mengingatkan investor akan pentingnya manajemen risiko yang efektif.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan untuk memberikan informasi dan bukan merupakan saran investasi. Setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab individu.











