PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola restoran cepat saji KFC, baru-baru ini mengumumkan penjualan 15% sahamnya di PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI) kepada PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN). Transaksi senilai Rp 54,44 miliar ini efektif per 30 Juni 2025. Langkah ini merupakan bagian dari strategi FAST untuk memperkuat struktur pendanaan dan mendukung pertumbuhan JAI.
Penjualan saham tersebut diharapkan meningkatkan fleksibilitas dan efisiensi operasional JAI. Dengan struktur kepemilikan baru, FAST optimistis JAI dapat berkembang lebih pesat. Perusahaan juga menekankan bahwa penjualan saham ini dilakukan untuk mendukung ekspansi dan kelancaran operasional perusahaan secara keseluruhan.
Penjualan Saham dan Profil PT Shankara Fortuna Nusantara
PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN), pembeli saham JAI, bergerak di bidang perdagangan besar daging ayam dan olahannya. Sesuai dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 46322, SFN mencakup perdagangan daging ayam, termasuk yang diawetkan.
Kepemilikan saham SFN dipegang oleh Putra Rizky Bustaman (45%), Liana Saputri (45%), dan Bani Adityasuny Ismiarso (10%). Dengan akuisisi ini, SFN kini memiliki peran signifikan dalam pengembangan JAI ke depan.
Proyek Peternakan Terintegrasi Jagonya Ayam Indonesia
JAI saat ini tengah membangun peternakan ayam terintegrasi seluas 8.575.200 meter persegi di Banyuwangi, Jawa Timur. Proyek ini diperkirakan mampu memproduksi 42.000 ton daging ayam per hari, atau sekitar 76 juta ton dalam lima tahun.
Produksi tersebut diharapkan mampu memenuhi hingga 35% kebutuhan pasokan bahan baku daging ayam untuk restoran KFC dalam lima tahun ke depan. Dengan demikian, kerjasama ini akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Manfaat Transaksi Bagi PT Fast Food Indonesia
Setelah divestasi saham di JAI, FAST masih mempertahankan kepemilikan mayoritas sebesar 55%. Hal ini menjadikan FAST tetap sebagai pemegang saham pengendali di JAI.
Kepemilikan saham mayoritas ini memungkinkan FAST untuk mendapatkan manfaat dari efisiensi harga pasokan daging ayam dan olahannya dari JAI. Selain itu, FAST juga dapat meningkatkan profitabilitas dari kegiatan usaha peternakan ayam terintegrasi milik JAI, yang mencakup perkebunan, pabrik pakan, penetasan ayam, pembesaran ayam, rumah potong ayam, dan industri pengolahan daging ayam.
Dampak Positif Lainnya
Dengan masuknya SFN, JAI diharapkan dapat meningkatkan daya saing, operasional, dan kemampuan finansialnya. Kolaborasi ini membuka peluang baru untuk pengembangan bisnis yang lebih luas.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 3 Juli 2025, harga saham FAST naik 0,72% menjadi Rp 278 per saham. Hal ini menunjukkan respon positif pasar terhadap strategi bisnis yang dijalankan.
Dampak Transaksi terhadap IHSG dan Pasar Saham
Pada perdagangan Kamis, 3 Juli 2025, IHSG ditutup melemah tipis 0,05% ke posisi 6.878,05. Meski demikian, transaksi harian saham masih berada di bawah Rp 10 triliun.
Indeks LQ45 juga turun 0,08% ke posisi 765,58. Sebanyak 239 saham melemah, sedangkan 324 saham menguat dan 230 saham stagnan. Total frekuensi perdagangan mencapai 1.036.540 kali dengan volume perdagangan 18,5 miliar saham dan nilai transaksi harian Rp 8 triliun. Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 16.183.
Sektor consumer nonsiklikal memimpin penguatan dengan kenaikan 1,34%. Sektor transportasi dan basic industry juga mencatat kenaikan signifikan. Sebaliknya, sektor keuangan, teknologi, dan industri mengalami penurunan. Secara keseluruhan, pasar menunjukkan pergerakan yang dinamis. Meskipun IHSG mengalami penurunan ringan, penjualan saham FAST di JAI sepertinya tidak berdampak negatif signifikan terhadap kinerja pasar saham secara umum. Perlu pemantauan lebih lanjut untuk melihat dampak jangka panjang transaksi ini terhadap kinerja saham FAST dan IHSG.











