Jeff Bezos, pendiri Amazon, kembali menjual sebagian sahamnya. Transaksi terbaru ini melibatkan lebih dari 3,3 juta lembar saham, bernilai sekitar USD 736,7 juta atau setara Rp 11,9 triliun (kurs Rp 16.203 per dolar AS). Penjualan ini sesuai dengan rencana perdagangan otomatis yang telah disusun sejak Maret 2025. Bezos berencana melepas hingga 25 juta saham Amazon secara bertahap sampai 29 Mei 2026.
Meskipun telah mundur dari jabatan CEO Amazon pada 2021, Bezos tetap menjadi pemegang saham individu terbesar perusahaan. Ia secara rutin melakukan divestasi saham dalam beberapa tahun terakhir.
Penjualan Saham dan Proyek Ambisius
Pada Februari 2024, Bezos juga menerapkan skema serupa untuk menjual maksimal 50 juta saham hingga akhir Januari 2025.
Bezos sebelumnya menyatakan akan menjual sekitar USD 1 miliar saham Amazon setiap tahun. Dana ini akan digunakan untuk membiayai proyek eksplorasi luar angkasa Blue Origin, perusahaannya di bidang tersebut.
Sebagian dari hasil penjualan saham juga disumbangkan ke Day 1 Academies, organisasi nirlaba yang membangun jaringan prasekolah berbasis metode Montessori di Amerika Serikat.
Pernikahan Mewah dan Protes Warga Venesia
Penjualan saham terbaru Bezos terjadi beberapa hari setelah pernikahan mewahnya dengan Lauren Sanchez di Venesia, Italia.
Pernikahan tiga hari itu, yang kabarnya menelan biaya sekitar USD 50 juta, memicu protes dari warga Venesia. Ratusan warga turun ke jalan untuk memprotes acara tersebut.
Para demonstran mengecam pesta mewah tersebut sebagai simbol pamer kekayaan yang mengabaikan realitas sosial di Venesia. Mereka meneriakkan “Bezos, enyahlah! Keluarlah dari laguna kami!”
Alasan Protes Warga
Warga Venesia merasa pernikahan mewah Bezos merupakan bentuk penyalahgunaan kota mereka untuk kepentingan pribadi yang kaya raya.
Mereka mempertanyakan etika publik di tengah krisis pariwisata massal (overtourism) dan perubahan iklim yang dihadapi Venesia.
Ironi dan Etika Publik
Banyak yang melihat ironi antara pesta mewah Bezos dan kesulitan yang dihadapi para pekerja Amazon.
Beberapa pekerja Amazon bahkan berdemonstrasi, mengaku kesulitan membayar sewa dan harus menempuh perjalanan jauh untuk bekerja.
Protes juga menyoroti hubungan Bezos dengan Presiden AS Donald Trump dan kebijakan belanja militer. Demonstran mengibarkan berbagai bendera, termasuk bendera Palestina, bendera pelangi (LGBTQ+), bendera anti-fasis, dan bendera Venesia yang dimodifikasi.
Aksi ini menunjukkan keresahan global akan konsentrasi kekayaan dan dampaknya terhadap ruang publik dan harmoni sosial.
Meskipun Bezos mungkin tidak melanggar hukum, pertanyaan utama tetap ada: apakah tindakannya melanggar etika publik?
Pernikahan mewahnya di Venesia menjadi simbol ketimpangan ekonomi global, di mana segelintir orang menikmati kemewahan yang ditanggung oleh banyak orang lain secara ekonomi dan moral.
Protes di Venesia bukan hanya menolak individu, tetapi mencerminkan keresahan publik global terhadap dominasi uang dan kekuasaan atas ruang publik.
Jeff Bezos, saat ini menempati peringkat ketiga orang terkaya dunia menurut Bloomberg Billionaires Index, dengan kekayaan diperkirakan mencapai USD 240 miliar. Namun, peristiwa ini menunjukkan bahwa kekayaan semata tidak selalu menjamin penerimaan sosial, terutama di tengah ketimpangan yang semakin lebar.
Peristiwa ini mengingatkan kita akan pentingnya pertimbangan etika dan tanggung jawab sosial bagi para pemimpin bisnis dan individu kaya raya di dunia.











