Pasar saham London mengalami penurunan signifikan dalam penggalangan dana Initial Public Offering (IPO) pada semester pertama tahun 2025. Jumlah dana yang terkumpul mencapai titik terendah dalam tiga dekade terakhir, memicu pertanyaan tentang posisi London sebagai pusat keuangan global.
Berdasarkan data Dealogic yang dikutip CNBC, hanya lima IPO di London yang berhasil mengumpulkan dana sebesar 160 juta poundsterling (sekitar USD 218,6 juta atau Rp 3,53 triliun) selama periode tersebut. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama setelah krisis keuangan 2008, di mana dua IPO berhasil mengumpulkan 222 juta poundsterling.
Penurunan Drastis Penggalangan Dana IPO di London
Penurunan drastis ini menandai tantangan besar bagi London dalam mempertahankan posisinya sebagai pusat modal global. Hal ini diperparah dengan penurunan hasil IPO di Inggris secara keseluruhan.
Laporan terbaru dari PwC menunjukkan bahwa hasil IPO di Inggris turun menjadi 100 juta poundsterling pada kuartal pertama 2025, jauh di bawah angka 300 juta poundsterling pada periode yang sama tahun sebelumnya. IPO terbesar di London tahun ini adalah pencatatan MHA, perusahaan jasa profesional, yang mengumpulkan 98 juta poundsterling di AIM (Alternative Investment Market).
Pergeseran Minat ke Pasar Modal Amerika Serikat
Sejumlah perusahaan telah membatalkan rencana IPO mereka di London dan beralih ke bursa saham Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan kurangnya daya tarik London bagi perusahaan-perusahaan besar.
Shein, misalnya, dilaporkan membatalkan rencana IPO di London dan memilih Hong Kong. Sementara itu, Cobalt Holdings, perusahaan investasi yang didukung Glencore, juga mengkonfirmasi pembatalan rencana IPO mereka di London.
Tren ini semakin diperkuat oleh keputusan Wise, raksasa teknologi keuangan Inggris, untuk memindahkan pencatatan saham utamanya ke New York. AstraZeneca, perusahaan farmasi terbesar di FTSE 100, juga dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk memindahkan pencatatan sahamnya ke AS.
CEO Wise, Kristo Kaarmann, menyatakan bahwa pemindahan pencatatan ke AS akan meningkatkan visibilitas perusahaan dan memberikan akses yang lebih baik ke pasar modal yang lebih likuid.
Upaya Revitalisasi Pasar Modal Inggris dan Kesenjangan dengan AS
Pemerintah Inggris, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Keir Starmer, telah meluncurkan rencana untuk merevitalisasi pasar modal Inggris. Upaya ini mencakup penyelidikan terhadap regulasi yang dianggap menghambat investasi.
Otoritas Perilaku Keuangan Inggris juga telah merevisi aturan pencatatan saham untuk menyederhanakan proses. Namun, kesenjangan dengan AS tetap signifikan. Pada semester pertama 2025, pasar AS mencatat 156 IPO dengan total dana yang terkumpul mencapai USD 28,3 miliar.
Samuel Kerr, Head of Equity Capital Market Mergermarket, mengakui bahwa pasar saham Inggris telah mengalami masa sulit, namun optimistis akan masa depan. Ia menyebutkan bahwa beberapa bisnis mulai mempertimbangkan kembali pencatatan di London setelah beberapa tahun reformasi dan ketidakpastian regulasi di AS.
Keberhasilan London dalam menarik minat awal perusahaan untuk IPO dan mengubahnya menjadi pencatatan yang sukses akan sangat penting untuk membalikkan tren negatif yang sedang terjadi. Tantangan yang dihadapi London saat ini bukan hanya soal regulasi, tetapi juga bagaimana meningkatkan daya tariknya sebagai destinasi investasi utama di tengah persaingan ketat dengan bursa saham lain di dunia, terutama di AS.











