Investor asing mencatatkan penjualan saham Jepang terbesar dalam 12 minggu terakhir. Penjualan bersih senilai 524,3 miliar yen (Rp 58,7 triliun) terjadi pada pekan yang berakhir 21 Juni 2025. Hal ini menandai penjualan bersih mingguan pertama sejak 29 Maret 2025, menurut data Kementerian Keuangan Jepang.
Keputusan penjualan ini didorong oleh kekhawatiran atas konflik Israel-Iran dan potensi dampaknya terhadap harga minyak impor, serta inflasi yang meningkat di Jepang. Situasi geopolitik yang tidak menentu ini telah memicu kehati-hatian di kalangan investor asing.
Penjualan Saham Jepang dan Dampak Inflasi
Inflasi inti Jepang mencapai puncaknya dalam lebih dari dua tahun pada Mei 2025. Kondisi ini memberikan tekanan kepada Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga, terutama mengingat ketidakpastian kebijakan perdagangan AS.
Meskipun terjadi penjualan saham dalam pekan tersebut, investor asing sebenarnya mencatatkan arus masuk bersih sekitar 6,81 triliun yen (Rp 763,7 triliun) pada kuartal pertama tahun 2025. Ini merupakan jumlah terbesar dalam dua tahun terakhir.
Arus Pergerakan Modal Asing di Pasar Jepang
Selain saham, investor asing juga melakukan penyesuaian portofolio pada obligasi Jepang. Terjadi arus keluar bersih senilai 368,8 miliar yen (Rp 41,3 triliun) pada obligasi jangka panjang minggu lalu, setelah tiga minggu berturut-turut mencatatkan pembelian.
Namun, terdapat pembelian obligasi jangka pendek yang signifikan, mencapai 1,5 triliun yen – jumlah terbesar dalam sembilan minggu. Ini menunjukkan strategi investasi yang selektif dari investor asing.
Di sisi lain, investor asing juga menjual saham asing senilai 88,2 miliar yen (Rp 9,8 triliun), melanjutkan tren penjualan bersih selama enam minggu berturut-turut. Sebaliknya, mereka membeli obligasi asing jangka panjang senilai 615,5 miliar yen (Rp 69,9 triliun), menambah pembelian bersih minggu sebelumnya yang mencapai 1,57 triliun yen.
Pergerakan Pasar Saham di Indonesia dan Pilihan Saham Unggulan Investor Asing
Sementara itu di Indonesia, IHSG mengalami koreksi pada awal pekan, 23 Juni 2025, dengan level tertinggi 6.834,76 dan terendah 6.745,14. Kapitalisasi pasar BEI pun turun menjadi Rp 11.877 triliun.
Investor asing melakukan aksi jual saham senilai Rp 276,72 miliar pada awal pekan tersebut. Secara kumulatif, investor asing telah melepas saham senilai Rp 53,37 triliun sepanjang tahun 2025.
Meskipun terjadi aksi jual secara keseluruhan, beberapa saham tetap menarik minat investor asing.
Sepuluh Saham Teratas yang Dibeli Investor Asing di Indonesia
Berikut sepuluh saham yang paling banyak dibeli investor asing di Indonesia berdasarkan data Stockbit:
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Rp 149,55 miliar
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp 75,90 miliar
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Rp 39,27 miliar
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO): Rp 34,05 miliar
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Rp 33,10 miliar
- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO): Rp 25,90 miliar
- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS): Rp 19,99 miliar
- PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA): Rp 18,99 miliar
- PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR): Rp 16,81 miliar
- PT Petrosea Tbk (PTRO): Rp 13,59 miliar
Kesimpulannya, pergerakan modal asing di pasar saham dan obligasi baik Jepang maupun Indonesia menunjukkan dinamika yang kompleks. Faktor geopolitik dan inflasi menjadi pertimbangan utama, sementara di Indonesia, sektor perbankan dan pertambangan tetap menarik minat investor asing. Penting bagi investor untuk selalu mencermati perkembangan ekonomi makro dan fundamental perusahaan sebelum membuat keputusan investasi.











