Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merah pada Jumat, 13 Juni 2025. Penurunan ini terjadi di tengah pembelian saham oleh investor asing dan serangan militer Israel ke Iran. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama penurunan tersebut.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG berada di level tertinggi 7.192,66 dan terendah 7.149,61. Volume perdagangan mencapai 24,83 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 15,19 triliun. Kapitalisasi pasar saham turun menjadi Rp 12.495 triliun.
Analisis Penurunan IHSG
Analis Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyatakan IHSG melemah karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekonomi domestik juga menjadi faktor penyebab.
Potensi ancaman perang tarif turut menambah sentimen negatif yang menekan IHSG. Mayoritas bursa saham di Asia juga mengalami penurunan pada hari yang sama.
Dampak Serangan Militer Israel dan Respon Pasar
Serangan militer Israel ke Iran yang menyasar program nuklir negara tersebut memicu reaksi pasar yang signifikan. Iran pun berjanji akan membalas serangan tersebut.
Kenaikan harga minyak mentah lebih dari 6 persen, melewati level USD 72 per barel, menjadi salah satu dampak langsung dari peristiwa ini. Pelaku pasar sebelumnya cenderung mengabaikan risiko geopolitik, namun serangan ini mengingatkan akan ketajaman dan urgensi risiko tersebut.
Aktivitas Investor Asing
Meskipun IHSG terkoreksi, investor asing mencatatkan aksi beli saham senilai Rp 478,76 miliar. Namun, angka ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan total penjualan saham sepanjang tahun 2025 yang mencapai Rp 48,58 triliun.
Bank Mandiri menjadi saham yang paling banyak dibeli investor asing, dengan nilai Rp 253,43 miliar. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatatkan pembelian yang signifikan.
Saham yang Dilepas Investor Asing
Di sisi lain, investor asing juga melepas sejumlah saham di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Berikut 10 saham teratas yang dilepas, berdasarkan data Stockbit:
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp 401,78 miliar
- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO): Rp 52,73 miliar
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Rp 46,59 miliar
- PT Kalbe Farma Tbk (KLBF): Rp 38,79 miliar
- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI): Rp 23,30 miliar
- PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI): Rp 21,16 miliar
- PT PP Tbk (PTPP): Rp 17,08 miliar
- PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR): Rp 14,11 miliar
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Rp 13,81 miliar
- PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE): Rp 13,21 miliar
Penurunan Bursa Saham Asia
Bursa saham Asia Pasifik juga mengalami penurunan pada Jumat, 13 Juni 2025. Penurunan ini sejalan dengan sentimen negatif global akibat konflik Israel-Iran.
Beberapa indeks saham utama seperti Nikkei 225, Topix, Kospi, Kosdaq, ASX 200, Hang Seng, CSI 300, Nifty 50, dan BSE Sensex menunjukan penurunan yang signifikan.
Secara keseluruhan, penurunan IHSG dan bursa saham Asia mencerminkan dampak nyata dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya mempertimbangkan risiko geopolitik dalam investasi.
Ke depan, perkembangan situasi di Timur Tengah perlu terus dipantau. Dampaknya terhadap pasar saham dan ekonomi global masih perlu diwaspadai. Investor perlu bersiap menghadapi volatilitas pasar yang mungkin terjadi.











