Pasar keuangan global pekan ini akan diwarnai rilis sejumlah data ekonomi. Namun, perhatian utama tertuju pada dua agenda global utama. Pertama, keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) terkait suku bunga acuan The Fed (Federal Funds Rate/FFR). Kedua, eskalasi konflik antara Israel dan Iran yang dikhawatirkan akan memicu perang besar di Timur Tengah.
Konflik Israel-Iran meningkatkan ketidakpastian pasar. Ancaman meluasnya konflik melibatkan negara-negara seperti Lebanon (Hezbollah), Suriah, dan Yaman (Houthi) menambah kekhawatiran. Potensi campur tangan negara-negara adikuasa seperti AS semakin memperumit situasi.
Dampak Konflik Israel-Iran terhadap IHSG
PT Indo Premier Sekuritas memproyeksikan pelemahan IHSG pekan ini. Support diperkirakan berada di level 6.994 dan resistance di 7.239.
Pekan lalu, IHSG sebenarnya ditutup menguat 0,74% di level 7.166,06. Namun, pola candlestick “shooting star” mengindikasikan potensi penurunan.
Penguatan IHSG di awal pekan lalu didorong pertemuan AS-China di London. Kedua negara menyepakati kerangka kerja gencatan perang dagang.
Namun, konflik Israel-Iran muncul dan memberikan dampak negatif. Serangan udara besar-besaran Israel ke Iran pada 13 Juni 2025, Operation Rising Lion, menjadi pemicu utama.
Volatilitas Jangka Pendek Hingga Menengah
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi volatilitas tinggi dalam jangka pendek hingga menengah. Harga energi dan permintaan aset safe haven diperkirakan meningkat.
Arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia berpotensi signifikan. Eskalasi konflik Iran-Israel menjadi penyebab utama.
Indeks Dow Jones turun 1,8% ke 42.197,8 dan S&P 500 melemah 1,1% ke 5.977 pekan lalu. Operasi militer besar-besaran Israel terhadap Iran dan balasan dari Iran menjadi faktor utama penurunan.
Lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 7,3% ke USD 73,0 per barel menjadi indikator. Harga emas juga naik 1,4% ke USD 3.432 per troy ons.
Rekomendasi Saham dan Pertimbangan Investasi
PT Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan kehati-hatian dalam berinvestasi di saham Indonesia. Saham terkait minyak dan emas seperti MEDC, ANTM, dan MDKA menjadi pilihan.
Beberapa faktor kunci perlu dipantau. Serangan lanjutan Israel, potensi balasan Iran, dan kemungkinan negosiasi nuklir perlu diperhatikan.
PT Indo Premier Sekuritas memberikan beberapa rekomendasi saham. MEDC (Entry 1400, Target 1500, Stop Loss <1360) menjadi rekomendasi pertama.
Konflik berpotensi mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur vital ini.
ELSA (Entry 520, Target 545, Stop Loss <505) menjadi rekomendasi kedua. Alasannya sama dengan MEDC, yaitu dampak gangguan pada Selat Hormuz.
ANTM (Entry 3350, Target 3600, Stop Loss <3240) menjadi rekomendasi ketiga. Gelombang safe haven flows mendorong peningkatan harga emas.
Goldman Sachs memproyeksi harga emas mencapai $3.700/t.oz pada akhir 2025. BofA memproyeksi hingga $4.000/t.oz dalam 12 bulan ke depan.
Disclaimer: Keputusan investasi ada di tangan pembaca. Analisis dan riset yang matang sangat diperlukan sebelum berinvestasi. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang timbul.
Kesimpulannya, situasi geopolitik yang tidak menentu akibat eskalasi konflik Israel-Iran memberikan dampak signifikan terhadap pasar saham global, termasuk Indonesia. Para investor perlu mempertimbangkan faktor-faktor ini dan melakukan analisis yang mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Pemantauan perkembangan konflik dan respons pasar menjadi hal yang krusial dalam menentukan strategi investasi yang tepat.











