Indonesia terus berupaya mencapai target nol emisi karbon. Salah satu strategi kunci yang diadopsi adalah melalui pengembangan pasar Renewable Energy Certificate (REC). Inisiatif ini diharapkan dapat mempercepat transisi ke ekonomi hijau dan mendorong investasi di sektor energi terbarukan.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, baru-baru ini menjelaskan peran vital bursa REC dalam mencapai target tersebut. Peluncuran bursa REC ini bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-16 Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) dan Indonesia Clearing House (ICH) di Jakarta pada 9 Juli 2025.
Bursa REC: Mempercepat Transisi ke Ekonomi Hijau
Bursa REC merupakan sebuah pasar perdagangan sertifikat energi terbarukan. REC mewakili jumlah energi listrik yang dihasilkan dari sumber terbarukan seperti matahari, air, angin, dan biomassa, sesuai standar nasional dan internasional.
Dengan adanya bursa ini, pelaku usaha dapat secara resmi mengakui penggunaan energi hijau dalam operasional mereka. Ini memberikan insentif bagi perusahaan untuk berinvestasi dan beralih ke sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Mekanisme Perdagangan dan Manfaat Bursa REC
Mekanisme bursa REC cukup sederhana. Konsumen yang ingin membuktikan komitmennya terhadap energi terbarukan dapat membeli REC, yang menunjukkan bahwa mereka telah mendukung produksi listrik dari sumber terbarukan.
Sistem ini sangat penting karena listrik dari berbagai sumber sulit dibedakan dalam jaringan. REC berfungsi sebagai alat pelacak dan verifikasi penggunaan energi terbarukan, memberikan transparansi dan kredibilitas.
Kehadiran bursa REC juga diharapkan dapat menarik investasi asing ke sektor energi terbarukan Indonesia. Investasi ini sangat krusial untuk memenuhi target bauran energi terbarukan sebesar 17% pada tahun 2025.
Kinerja Positif Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK)
Selain peluncuran bursa REC, Wakil Menteri Perdagangan juga mengumumkan kinerja positif Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) pada periode Januari-Mei 2025.
Nilai transaksi PBK berdasarkan Notional Value mencapai angka fantastis, yaitu Rp 18.969,3 triliun, meningkat 50,1% dibandingkan periode yang sama di tahun 2024. Hal ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam sektor perdagangan komoditi di Indonesia.
Volume transaksi juga mengalami peningkatan sebesar 3,6 persen, mencapai 5.956.457,1 lot. Pertumbuhan ini mengindikasikan semakin meningkatnya aktivitas perdagangan dan kepercayaan pelaku pasar terhadap PBK.
ICDX dan ICH, yang ditunjuk oleh Bappebti untuk membangun bursa REC, memainkan peran penting dalam mendorong perkembangan pasar ini. Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci keberhasilan inisiatif ini.
Secara keseluruhan, peluncuran bursa REC menandai langkah signifikan Indonesia dalam mencapai target nol emisi karbon. Kombinasi antara strategi kebijakan yang tepat dan kinerja positif pasar komoditi memberikan optimisme terhadap keberhasilan transisi ke ekonomi hijau yang berkelanjutan di masa depan. Keberhasilan ini juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berwawasan lingkungan.











