Indonesia terus berupaya mencapai target nol emisi karbon. Salah satu strategi kunci yang dijalankan adalah melalui pengembangan pasar karbon, khususnya dengan peluncuran Bursa Renewable Energy Certificate (REC). Bursa ini diharapkan mampu mendorong percepatan ekonomi hijau dan investasi di sektor energi terbarukan.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, menekankan pentingnya bursa REC dalam mencapai target porsi energi terbarukan 17% pada tahun 2025. Inisiatif ini selaras dengan visi Presiden untuk mencapai net zero emission.
Bursa REC: Motor Penggerak Ekonomi Hijau Indonesia
Bursa REC merupakan pasar perdagangan sertifikat energi terbarukan. REC sendiri adalah instrumen yang menunjukkan jumlah energi listrik yang dihasilkan dari sumber terbarukan seperti matahari, air, angin, dan biomassa, sesuai standar nasional dan internasional.
Kehadiran bursa ini memberikan kepastian dan transparansi bagi pelaku usaha untuk mengklaim penggunaan energi hijau. Hal ini mendorong investasi dan pengembangan lebih lanjut di sektor energi terbarukan.
Mekanisme Perdagangan Sertifikat Energi Terbarukan
Mekanisme bursa REC cukup sederhana. Pelaku usaha yang menggunakan energi terbarukan memperoleh REC yang kemudian dapat diperdagangkan di bursa.
Konsumen yang ingin mendukung energi terbarukan, namun tidak memiliki akses langsung ke sumbernya, dapat membeli REC. Ini memungkinkan partisipasi yang lebih luas dalam transisi energi berkelanjutan.
REC memainkan peran krusial dalam pelacakan dan verifikasi asal-usul energi terbarukan. Karena listrik dari berbagai sumber sulit dibedakan secara fisik, REC berfungsi sebagai bukti penggunaan energi hijau.
Peran PT ICDX dan PT ICH
PT Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (PT ICDX) dan PT Indonesia Clearing House (PT ICH) ditugaskan oleh Bappebti untuk membangun dan mengelola bursa REC ini. Kedua perusahaan ini memiliki peran penting dalam memastikan kelancaran transaksi dan transparansi perdagangan REC.
Kinerja Positif Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK)
Peluncuran bursa REC juga beriringan dengan capaian positif kinerja PBK. Nilai transaksi PBK pada Januari-Mei 2025 mencapai Rp 18.969,3 triliun, meningkat 50,1% dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Volume transaksi juga mengalami peningkatan sebesar 3,6% menjadi 5.956.457,1 lot. Ini menunjukkan perkembangan positif sektor perdagangan berjangka komoditi di Indonesia.
Dengan diluncurkannya Bursa REC, Indonesia menunjukkan komitmen serius dalam mencapai target nol emisi karbon. Bursa ini bukan hanya mempercepat transisi energi berkelanjutan, tetapi juga membuka peluang investasi dan pertumbuhan ekonomi hijau yang berkelanjutan. Keberhasilan bursa ini akan menjadi barometer penting dalam upaya Indonesia mencapai target energi terbarukan dan mengurangi emisi karbon di masa depan. Peningkatan kinerja PBK juga menunjukkan potensi besar pasar komoditi Indonesia dalam mendukung perekonomian nasional.











