Indonesia tengah berpacu menuju target nol emisi karbon. Salah satu strategi kunci yang diandalkan adalah pengembangan bursa Renewable Energy Certificate (REC). Langkah ini diharapkan tidak hanya mempercepat transisi energi hijau, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, menekankan pentingnya bursa REC dalam mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 17% pada tahun 2025. Inisiatif ini sejalan dengan visi Presiden untuk mencapai net zero emission.
Bursa REC: Jembatan Menuju Ekonomi Hijau Indonesia
Bursa REC, yang diluncurkan pada Rabu (9/7/2025), merupakan pasar perdagangan sertifikat energi terbarukan. Setiap REC mewakili jumlah energi listrik yang dihasilkan dari sumber terbarukan seperti matahari, air, angin, dan biomassa, sesuai standar nasional dan internasional.
Kehadiran bursa ini memberi pelaku usaha kepastian atas penggunaan energi hijau. Mereka dapat membeli REC untuk membuktikan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.
Mekanisme Kerja dan Manfaat Bursa REC
REC berperan penting dalam melacak dan memverifikasi penggunaan energi terbarukan. Karena listrik dari sumber terbarukan dan konvensional sulit dibedakan, REC berfungsi sebagai bukti otentikasi.
Konsumen yang ingin mendukung energi hijau dapat membeli REC, bahkan tanpa terhubung langsung ke pembangkit energi terbarukan. Ini membuka peluang bagi partisipasi publik yang lebih luas dalam transisi energi.
Lebih dari sekadar sertifikasi, bursa REC juga berfungsi sebagai instrumen perdagangan berbasis pasar. Hal ini diharapkan mampu mendorong investasi lebih besar pada sektor energi terbarukan. Dengan adanya kepastian pasar dan mekanisme perdagangan yang transparan, investor akan lebih percaya diri untuk menanamkan modalnya.
Peran ICDX dan ICH dalam Pengembangan Bursa REC
PT Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (PT ICDX) dan PT Indonesia Clearing House (PT ICH) ditunjuk oleh Bappebti untuk membangun dan mengelola bursa REC. Kolaborasi keduanya diharapkan mampu menciptakan ekosistem perdagangan REC yang efisien dan terpercaya.
Kinerja Positif Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK)
Peluncuran bursa REC juga beriringan dengan capaian positif kinerja PBK. Nilai transaksi PBK pada periode Januari-Mei 2025 mencapai angka yang fantastis, yakni Rp 18.969,3 triliun.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 50,1% dibandingkan periode yang sama di tahun 2024. Dari sisi volume, transaksi juga mengalami kenaikan sebesar 3,6 persen, mencapai 5.956.457,1 lot.
Peningkatan signifikan ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap instrumen perdagangan berjangka komoditi di Indonesia. Hal ini juga semakin memperkuat optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama di sektor energi terbarukan.
Secara keseluruhan, peluncuran bursa REC menandai langkah strategis Indonesia dalam mencapai target nol emisi karbon. Dengan mendorong investasi di sektor energi hijau dan menyediakan mekanisme perdagangan yang transparan, bursa REC diharapkan dapat mempercepat transisi energi dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Keberhasilan inisiatif ini bergantung pada kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat umum.











