Pasar saham Indonesia diprediksi akan menguat di awal pekan. Hal ini didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik dan pergeseran minat investor ke sektor industri dan energi. Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa sentimen makroekonomi global yang membaik turut berperan penting dalam potensi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Redanya Ketegangan Geopolitik dan Apresiasi Rupiah
Salah satu faktor utama yang mendukung potensi penguatan IHSG adalah gencatan senjata antara Israel dan Iran. Peristiwa ini mengurangi tekanan geopolitik di Timur Tengah.
Situasi tersebut meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kabar rencana penggantian Jerome Powell sebagai Ketua The Fed oleh calon Presiden AS Donald Trump juga turut berkontribusi positif.
Spekulasi tersebut menyebabkan pelemahan dolar AS. Pelemahan dolar AS ini berdampak positif terhadap penguatan mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah yang menguat hingga Rp16.199 per dolar AS.
Penguatan rupiah membuka peluang bagi masuknya dana asing ke pasar domestik. Hal ini akan menopang likuiditas dan sentimen pasar saham nasional.
Data Inflasi AS dan Potensi Capital Inflow
Para pelaku pasar kini menantikan rilis data PCE Price Index Amerika Serikat. Data inflasi AS yang diperkirakan rilis pada 28 Juni 2025 ini berpotensi menjadi katalis utama penguatan IHSG.
PCE Price Index merupakan indikator utama inflasi yang menjadi acuan kebijakan moneter The Fed. Jika data inflasi menunjukkan tren moderat atau melandai, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed akan meningkat.
Penurunan suku bunga The Fed akan meningkatkan minat investor global terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang. Hal ini diperkirakan akan memicu arus modal masuk ke Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.
Penguatan Teknikal dan Rotasi Sektoral
Secara teknikal, IHSG mencatat penguatan 0,96% ke level 6.897. Penguatan ini ditandai dengan meningkatnya partisipasi pasar dan nilai transaksi mencapai Rp14,85 triliun.
Level 6.840 menjadi support yang kuat untuk IHSG. Sementara itu, level 6.956 menjadi resistance kunci; penembusannya akan membuka jalan bagi penguatan menuju 7.000.
Terlihat adanya rotasi sektoral. Sektor industri dasar dan barang konsumsi siklikal menguat. Saham-saham berbasis industrialisasi dan energi menjadi primadona, menandakan pergeseran dana dari sektor defensif ke sektor siklikal dan komoditas.
Saham-saham seperti ANTM, ENRG, dan BRPT menjadi penopang utama penguatan IHSG. Hal ini menunjukkan investor mulai melirik saham-saham yang terkait dengan hilirisasi, energi transisi, dan industrialisasi.
Market breadth yang mencatat 357 saham naik dibandingkan 246 saham turun juga menjadi sinyal positif. Kepercayaan pelaku pasar mulai pulih.
PGEO, MBMA, dan TPIA sebagai Saham Unggulan
PGEO, MBMA, dan TPIA menjadi tiga saham yang menarik perhatian. Ketiga saham ini mendapatkan katalis kuat dari kemitraan strategis dengan INA dan Danantara.
PGEO menandatangani MoU dengan Danantara untuk pengembangan kapasitas panas bumi. Kemitraan ini memperkuat peran PGEO sebagai tulang punggung transisi energi nasional.
MBMA mengamankan kerja sama strategis proyek HPAL dengan Huayou dan CATL. Kemitraan ini memperkuat rantai pasok baterai kendaraan listrik Indonesia.
TPIA bermitra dengan INA dan Danantara dalam proyek Chlor-Alkali dan EDC. Proyek ini senilai USD 800 juta dan akan memperkuat kapasitas bahan baku industri kimia dan energi nasional.
Keterlibatan INA dan Danantara dalam proyek-proyek tersebut menandakan dukungan pemerintah terhadap industrialisasi jangka panjang. Kombinasi dari prospek pertumbuhan fundamental, sentimen positif global, dan posisi strategis dalam agenda hilirisasi membuat saham-saham tersebut berpotensi menjadi pemimpin pasar.
Meskipun prospek IHSG terlihat positif, setiap keputusan investasi tetap berada di tangan investor. Penting untuk melakukan riset dan analisis yang menyeluruh sebelum melakukan transaksi jual beli saham.











