Pasar saham Indonesia diprediksi akan menguat di awal pekan. Hal ini didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik dan pergeseran minat investor ke sektor industri dan energi. Analis memprediksi sentimen positif ini akan berlanjut, didukung oleh berbagai faktor baik domestik maupun global.
Menurut Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, kombinasi sentimen makroekonomi global yang membaik dan rotasi sektoral menjadi pendorong utama. Gencatan senjata antara Israel dan Iran mengurangi tekanan geopolitik di Timur Tengah.
Data Inflasi AS Jadi Katalis, Potensi Capital Inflow ke RI
Data inflasi Amerika Serikat (PCE Price Index) yang akan dirilis pada 28 Juni 2025 menjadi perhatian utama. Data ini akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan moneter The Fed.
Jika data inflasi menunjukkan tren moderat atau melandai, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed akan menguat. Hal ini akan menarik minat investor global ke aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.
Kondisi ini berpotensi memicu arus modal masuk (capital inflow) ke Indonesia dalam beberapa bulan mendatang. Momentum ini sangat strategis bagi pasar domestik untuk menguat lebih lanjut.
Investor global tengah melakukan rotasi portofolio, beralih dari aset defensif ke emerging market. Indonesia diprediksi akan menjadi tujuan utama aliran modal global.
Teknikal Kuat, Sektor Industri dan Energi Jadi Motor Penggerak
Secara teknikal, IHSG mencatat penguatan 0,96 persen ke level 6.897, dengan peningkatan volume transaksi mencapai Rp14,85 triliun.
Level 6.840 menjadi support kuat, sementara 6.956 menjadi resistance kunci. Jika resistance ini tertembus, IHSG berpotensi menguat menuju 7.000.
Rotasi sektoral terlihat jelas dari penguatan sektor industri dasar dan barang konsumsi siklikal. Saham-saham berbasis industrialisasi dan energi menjadi primadona.
Saham seperti ANTM, ENRG, dan BRPT menjadi penopang utama penguatan. Hal ini menunjukkan investor tertarik pada saham-saham yang terkait dengan hilirisasi, energi transisi, dan industrialisasi.
Market breadth yang menunjukkan 357 saham naik berbanding 246 saham turun merupakan sinyal positif. Penguatan indeks berpotensi berlanjut jika sentimen eksternal tetap kondusif dan dukungan teknikal terjaga.
PGEO, MBMA, dan TPIA Jadi Jawara Baru
Saham PGEO, MBMA, dan TPIA menarik perhatian pasar karena kemitraan strategis mereka dengan INA dan Danantara.
PGEO menandatangani MoU dengan Danantara untuk pengembangan panas bumi hingga 3.000 MW, memperkuat perannya dalam transisi energi nasional.
MBMA menjalin kerja sama proyek HPAL dengan Huayou dan CATL, memperkuat rantai pasok baterai kendaraan listrik Indonesia. Saham MBMA diproyeksikan mencapai Rp 480.
TPIA bermitra dengan INA dan Danantara dalam proyek Chlor-Alkali dan EDC senilai USD 800 juta. Proyek ini akan meningkatkan kapasitas bahan baku industri kimia dan energi nasional.
Keterlibatan INA dan Danantara merupakan bagian dari strategi industrialisasi jangka panjang pemerintah. Prospek pertumbuhan fundamental, sentimen global positif, dan posisi strategis dalam hilirisasi membuat saham-saham ini berpotensi menjadi pemimpin pasar.
Kesimpulannya, prospek IHSG tampak positif di awal pekan ini. Berbagai faktor pendukung, baik dari sentimen global maupun domestik, menandakan potensi penguatan berkelanjutan. Namun, investor tetap perlu melakukan analisis dan pertimbangan risiko sebelum melakukan investasi.











