Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan 16-20 Juni 2025, meninggalkan posisi 7.000 dan ditutup di angka 6.907,13. Penurunan sebesar 3,61% ini menandai perubahan drastis dibandingkan pekan sebelumnya yang mencatatkan kenaikan 0,74%. Berbagai faktor global turut mempengaruhi kinerja IHSG pekan ini, termasuk keputusan bank sentral beberapa negara untuk menahan suku bunga.
Penurunan IHSG juga berdampak pada kapitalisasi pasar yang menyusut 3,17% menjadi Rp 12.099 triliun dari Rp 12.495 triliun pada pekan lalu. Nilai transaksi harian juga ikut terdampak, mengalami penurunan yang cukup signifikan di berbagai aspek.
Anjloknya IHSG: Faktor-faktor Penyebab
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan penurunan tajam IHSG. Meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama.
Kenaikan harga komoditas minyak mentah juga ikut memberikan tekanan pada IHSG. Hal ini menyebabkan ketidakpastian di pasar dan mempengaruhi sentimen investor.
Keputusan Bank Indonesia, The Fed (Amerika Serikat), dan Bank Sentral China untuk mempertahankan suku bunga acuan juga turut berkontribusi terhadap penurunan IHSG. Kebijakan moneter ini berdampak pada daya tarik investasi di pasar saham Indonesia.
Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS oleh The Fed menjadi 1,4% juga mempengaruhi pergerakan IHSG. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan melemahnya perekonomian global dan berimbas pada pasar saham.
Dampak Penurunan IHSG terhadap Aktivitas Pasar
Penurunan IHSG berdampak pada berbagai aspek aktivitas pasar. Rata-rata nilai transaksi harian mengalami penurunan 7,63% menjadi Rp 15,01 triliun.
Frekuensi transaksi harian juga anjlok sebesar 8,15% menjadi 1,31 juta kali transaksi. Volume transaksi harian turut menurun hingga 13% menjadi 24,41 miliar saham.
Investor asing mencatatkan aksi jual saham senilai Rp 4,5 triliun sepanjang pekan tersebut. Ini merupakan perubahan signifikan dibandingkan pekan sebelumnya di mana investor asing masih melakukan pembelian saham.
Emisi Obligasi dan Kinerja IHSG Pekan Sebelumnya
Pada Kamis, 19 Juni 2025, tercatat dua pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Dwi Guna Laksana Tbk menerbitkan Obligasi I tahun 2025 senilai Rp300 miliar.
PT Bank Victoria International Tbk juga menerbitkan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan III Tahap II tahun 2025 senilai Rp500 miliar. Total emisi obligasi dan sukuk sepanjang tahun 2025 mencapai Rp71,08 triliun.
Berbeda dengan pekan ini, IHSG justru mengalami penguatan pada periode 9-13 Juni 2025, mencapai kenaikan 0,74% dan ditutup di posisi 7.166,06. Kenaikan ini didorong oleh beberapa faktor positif.
Data ekonomi China dan Amerika Serikat yang cenderung melandai, serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, menjadi faktor pendorong kenaikan IHSG pekan lalu. Kesepakatan dagang antara AS dan China (meski masih menunggu persetujuan akhir) juga memberikan sentimen positif.
Penguatan dolar AS terhadap rupiah di tengah kesepakatan perang dagang dan harapan akan adanya penurunan suku bunga turut berkontribusi pada kenaikan IHSG. Namun, rata-rata nilai transaksi harian justru mengalami penurunan 5,21% menjadi Rp 16,24 triliun.
Investor asing mencatatkan aksi beli senilai Rp 1,3 triliun selama sepekan tersebut. Ini berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya yang mencatatkan aksi jual Rp 4,7 triliun.
Kesimpulannya, pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor global dan domestik. Ketidakpastian geopolitik, kebijakan moneter, serta sentimen pasar internasional turut menentukan arah pergerakan indeks. Penting bagi investor untuk mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik untuk membuat keputusan investasi yang tepat.











