Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan signifikan sebesar 3,8 persen pada perdagangan Rabu, 26 Maret 2025, mencapai posisi 6.472,35. Kenaikan ini terjadi di tengah peningkatan volume transaksi harian dan seluruh sektor saham yang menunjukkan kinerja positif. Indeks LQ45 pun ikut meroket, naik 4,9 persen ke posisi 731,13.
Pada perdagangan tersebut, IHSG mencapai titik tertinggi di 6.489,14 dan terendah di 6.312,96. Tercatat 531 saham mengalami kenaikan, 112 saham melemah, dan 158 saham stagnan. Total frekuensi perdagangan mencapai 1.117.001 kali dengan volume 30,8 miliar saham dan nilai transaksi harian Rp 34,5 triliun. Kinerja IHSG ini menempatkan Indonesia sebagai pemimpin kenaikan terbaik di bursa Asia.
Dibandingkan dengan bursa saham lainnya di Asia, IHSG menunjukkan performa yang sangat menonjol. Bursa saham di Korea Selatan (KOSPI), Jepang (NIKKEI 225 dan TOPIX), Hong Kong (Hang Seng), Thailand (SETI), China (Shenzhen Comp.), Malaysia (KLCI), Singapura (Straits Times), dan Filipina (PSEI) juga mengalami penguatan, namun dengan persentase yang lebih rendah, berkisar antara 0,1% hingga 1,08%. Sebaliknya, beberapa bursa saham seperti India (SENSEX), Vietnam (Ho Chi Minh Stock Index), dan China (CSI 300 dan Shanghai Composite) mengalami penurunan.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menunjukkan penguatan pada penutupan perdagangan hari itu. Rupiah menguat 24 poin atau 0,14 persen, menjadi Rp16.588 per dolar AS, dibandingkan dengan Rp16.612 per dolar AS pada hari sebelumnya. Kurs JISDOR Bank Indonesia juga menguat ke level yang sama, Rp16.588 per dolar AS.
Analisis Penguatan IHSG dan Rupiah
Rully Nova, analis dari Bank Woori Saudara, mengaitkan penguatan rupiah dengan kembalinya investor asing ke pasar saham dan obligasi Indonesia. “Rupiah hari ini ditutup menguat lebih dipengaruhi oleh faktor domestik, yaitu kembalinya investor global ke pasar keuangan saham dan obligasi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa investor tertarik pada pasar saham karena prospek dividen jangka pendek, dan pada pasar obligasi karena yield yang lebih menarik dan widening yield spread obligasi Amerika Serikat.
Rully optimistis bahwa tren positif ini akan berlanjut. “Hingga hari ini, perkembangan masih baik dan masih akan berlanjut,” ungkap Rully. Pernyataan ini mencerminkan sentimen positif pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia dan daya tarik investasi di negara ini.
Apa itu IHSG?
IHSG, atau Indeks Harga Saham Gabungan, adalah indeks utama yang mengukur kinerja pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks ini menjadi acuan penting bagi investor, analis pasar, dan pelaku pasar modal lainnya untuk memantau pergerakan pasar saham Indonesia.
IHSG pertama kali diperkenalkan pada 1 April 1983, dengan nilai dasar 100 poin. Perhitungannya dilakukan setiap hari perdagangan menggunakan metode rata-rata tertimbang berdasarkan kapitalisasi pasar. Saham dengan kapitalisasi pasar lebih besar akan memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap pergerakan IHSG. Nilai IHSG mencerminkan sentimen pasar dan kinerja ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Kenaikan IHSG mengindikasikan optimisme investor terhadap prospek ekonomi dan kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia. Sebaliknya, penurunan IHSG dapat menunjukkan sentimen negatif yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal, seperti ketidakstabilan ekonomi global atau kebijakan pemerintah.
Memahami Perhitungan IHSG
Perhitungan IHSG dilakukan setiap hari kerja, dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Metode yang digunakan adalah Market Value Weighted Average Index, yang memberikan bobot lebih besar pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar yang lebih tinggi. Ini memastikan bahwa IHSG merepresentasikan secara akurat pergerakan keseluruhan pasar saham Indonesia.
Nilai dasar IHSG, yang ditetapkan pada 100 poin pada peluncurannya, telah mengalami perubahan signifikan seiring waktu. Data IHSG diperbarui secara *real-time*, memungkinkan investor untuk memantau kinerja pasar secara langsung dan akurat. Namun, penting untuk diingat bahwa IHSG bukan prediktor kinerja masa depan, melainkan refleksi kondisi pasar saat ini.
Investor perlu mempertimbangkan berbagai faktor lain, seperti analisis fundamental dan teknikal, serta berkonsultasi dengan profesional keuangan sebelum membuat keputusan investasi. Penggunaan IHSG sebagai alat analisis harus diimbangi dengan pemahaman yang komprehensif tentang pasar modal dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
IHSG Sebagai Indikator Ekonomi
Pergerakan IHSG seringkali berkorelasi dengan kinerja ekonomi makro Indonesia, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan suku bunga. Oleh karena itu, IHSG dapat menjadi salah satu indikator yang berguna untuk menilai kesehatan perekonomian nasional.
Kenaikan IHSG biasanya menunjukkan sentimen positif terhadap ekonomi Indonesia, yang berpotensi mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, penurunan IHSG bisa mengindikasikan ketidakpastian ekonomi atau penurunan kepercayaan investor. Pemerintah dan otoritas terkait biasanya memantau IHSG untuk mengantisipasi dan merespon perkembangan ekonomi.
IHSG memberikan informasi yang berharga bagi para pembuat kebijakan, investor, dan pelaku ekonomi lainnya. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa IHSG hanya salah satu dari banyak faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi atau kebijakan ekonomi. Analisis yang komprehensif dibutuhkan untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh.
Secara keseluruhan, lonjakan IHSG pada 26 Maret 2025 menunjukkan optimisme terhadap pasar dan ekonomi Indonesia. Namun, investor tetap perlu melakukan analisis yang mendalam sebelum mengambil keputusan investasi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan berkonsultasi dengan ahli keuangan.











