Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Selasa, 1 Juli 2025. IHSG melemah 12,32 poin atau 0,18%, menutup perdagangan di level 6.915,36. Sektor transportasi dan logistik menjadi penarik utama pelemahan ini, meskipun sentimen global menunjukkan perbaikan. Penurunan ini terjadi meskipun bursa regional Asia menunjukan pergerakan positif.
IHSG yang cenderung melemah ini sedikit berbeda dengan pergerakan positif di pasar saham global. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai faktor-faktor domestik yang mempengaruhi kinerja IHSG.
Sentimen Global Positif, Namun IHSG Melemah
Bursa regional Asia sebenarnya menunjukan kinerja yang positif, mengikuti jejak Wall Street. Sentimen pasar membaik karena meredanya ketegangan perang dagang dan meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga jangka pendek oleh The Fed. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan hal ini.
Meskipun sentimen global positif, IHSG tetap melemah. Perbedaan ini menunjukkan adanya faktor domestik yang perlu diperhatikan.
Data Domestik: Manufaktur Kontraksi, Neraca Dagang Surplus
Data manufaktur Indonesia pada Juni 2025 menunjukkan kontraksi ke angka 46,9, menurun dari 47,4 pada Mei. Penurunan ini disebabkan oleh lesunya permintaan domestik.
Meskipun kinerja ekspor relatif stabil, permintaan domestik yang lemah mempengaruhi sektor manufaktur. Hal ini berpotensi memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Neraca dagang Indonesia pada Juni 2025 mencatat surplus sebesar USD 4,3 miliar. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya USD 160 juta. Surplus neraca dagang ini menunjukkan kinerja ekspor yang kuat.
Inflasi Juni tercatat sebesar 0,19% (mtm) dan 1,87% (yoy). Angka ini masih berada dalam target Bank Indonesia (BI) di kisaran 1,5%–3,5%. Kondisi ini memberi ruang bagi BI untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga.
Potensi Pemangkasan Suku Bunga
Pemangkasan suku bunga oleh BI berpotensi mendorong daya beli dan investasi. Hal ini dapat menjadi stimulus positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, keputusan tersebut perlu mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi lainnya.
Kondisi inflasi yang terkendali dan surplus neraca dagang memberi ruang bagi BI untuk mengambil langkah tersebut. Namun, dampaknya terhadap IHSG perlu dipantau secara cermat.
Tensi Dagang AS dan Jepang Tetap Menjadi Bayangan
Ketidakpastian kebijakan tarif impor AS yang akan jatuh tempo pada 9 Juli 2025 masih menjadi perhatian pelaku pasar. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan beberapa negara tengah bernegosiasi. Namun, ia mengingatkan potensi kenaikan tarif jika tidak ada kemajuan.
Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif tambahan pada Jepang juga menambah ketidakpastian. Ancaman ini mencakup mempertahankan bea masuk 25% pada mobil Jepang dan menyoroti ketidakseimbangan perdagangan terkait impor beras AS. Investor global dengan seksama mengamati perkembangan negosiasi perdagangan ini.
IHSG dibuka dengan pergerakan positif di awal perdagangan. Namun, indeks kemudian berbalik melemah hingga penutupan sesi pertama dan tetap berada di zona merah hingga akhir sesi kedua. Pergerakan ini menggambarkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal.
Pergerakan Sektoral IHSG
Empat sektor menunjukan penguatan, yaitu barang konsumen non-primer (naik 0,77%), barang baku (naik 0,16%), infrastruktur (naik 0,12%), dan kesehatan (naik sedikit). Delapan sektor lainnya melemah, dengan sektor transportasi & logistik mengalami penurunan terdalam (turun 2,23%), diikuti sektor keuangan (turun 0,84%) dan industri (turun 0,78%).
Saham MINA, KRYA, APEX, ARCI, dan BUVA mencatatkan kenaikan tertinggi. Sementara itu, saham BTPN, INDS, SAFE, NIRO, dan LFLO mengalami pelemahan paling dalam. Pergerakan saham ini mencerminkan sentimen pasar terhadap masing-masing emiten.
Secara keseluruhan, meskipun sentimen global positif, IHSG ditutup melemah. Data domestik yang beragam dan ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional berkontribusi pada pelemahan ini. Perkembangan selanjutnya perlu dipantau untuk melihat arah pergerakan IHSG ke depan. Peran Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi juga akan menjadi faktor kunci.











