Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merah pada sesi pertama perdagangan Senin, 23 Juni 2025. Penurunan signifikan ini menandai berakhirnya sesi pertama di bawah level psikologis 6.900.
Berdasarkan data RTI, IHSG melemah 1,7 persen, menutup perdagangan sesi pertama di angka 6.789,71. Indeks LQ45 juga mengalami penurunan, turun 1,43 persen ke posisi 754,02. Seluruh indeks saham acuan menunjukkan tren negatif.
IHSG Tertekan, Mayoritas Saham Melemah
Sepanjang sesi pertama, IHSG bergerak di antara level tertinggi 6.834,76 dan terendah 6.751,86.
Sebanyak 538 saham mengalami penurunan harga, menekan IHSG secara keseluruhan. Sebaliknya, hanya 124 saham yang menguat, sementara 133 saham lainnya stagnan.
Total frekuensi perdagangan mencapai 807.285 kali dengan volume perdagangan 13,2 miliar saham. Nilai transaksi harian mencapai Rp 7,5 triliun. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah berada di kisaran 16.480.
Seluruh Sektor Mengalami Penurunan
Tidak ada sektor yang luput dari tekanan. Sektor teknologi mencatat koreksi terbesar dengan penurunan 2,97 persen.
Sektor consumer siklikal menyusul dengan penurunan 2,79 persen, disusul sektor properti yang melemah 2,72 persen.
Sektor energi turun 2,1 persen, sektor basic terpangkas 1,39 persen, dan sektor industri susut 1,96 persen.
Sektor consumer nonsiklikal tergelincir 2,16 persen, sektor kesehatan melemah 1,57 persen, dan sektor keuangan terperosok 1 persen.
Sektor infrastruktur juga melemah 1,86 persen, sementara sektor transportasi turun 0,51 persen.
Pergerakan Saham Pilihan: PSAB, MEDC, dan BRMS
Di tengah pelemahan IHSG, beberapa saham menunjukkan kinerja yang berbeda. Saham PSAB misalnya, melonjak 4,24 persen ke posisi Rp 492 per saham.
Saham ini dibuka pada harga Rp 480 per saham, bergerak di level tertinggi Rp 525 dan terendah Rp 474 per saham. Total frekuensi perdagangan mencapai 9.698 kali dengan volume 901.021 saham dan nilai transaksi Rp 45,1 miliar.
Saham MEDC juga menguat, naik 2,1 persen ke posisi Rp 1.460 per saham.
Berbeda dengan PSAB dan MEDC, saham BRMS melemah 1,45 persen ke posisi Rp 408 per saham. Saham ini dibuka pada harga Rp 418 per saham, bergerak di level tertinggi Rp 422 dan terendah Rp 400 per saham. Total frekuensi perdagangan 19.296 kali, volume 5.301.209 saham, dan nilai transaksi Rp 219,3 miliar.
Top Gainers dan Losers Saham LQ45
Saham-saham LQ45 yang masuk dalam top gainers antara lain AKRA (naik 5,76%), ESSA (naik 3,01%), MEDC (naik 2,10%), PGAS (naik 1,89%), dan AMMN (naik 1,64%).
Sementara itu, top losers LQ45 meliputi PTBA (turun 13,90%), CTRA (turun 6,25%), INCO (turun 5,23%), GOTO (turun 5,08%), dan ARTO (turun 5,04%).
Saham LQ45 teraktif berdasarkan nilai transaksi adalah BBRI (Rp 516,6 miliar), ANTM (Rp 474 miliar), BBCA (Rp 443,2 miliar), BMRI (Rp 295,7 miliar), dan MEDC (Rp 257,2 miliar).
Berdasarkan frekuensi perdagangan, saham teraktif adalah BBRI (29.872 kali), ANTM (26.626 kali), BBCA (20.904 kali), MEDC (18.826 kali), dan GOTO (15.359 kali).
Dampak Serangan AS ke Iran terhadap Pasar Saham Global
Penurunan IHSG juga dipengaruhi oleh sentimen global. Harga saham berjangka AS mengalami penurunan menjelang sesi perdagangan Senin, menyusul serangan AS ke lokasi nuklir Iran.
Dow Jones turun 109 poin (0,3%), S&P 500 susut 0,3%, dan Nasdaq merosot 0,4%. Serangan AS ini meningkatkan tensi geopolitik dan berpotensi memicu konflik lebih besar di Timur Tengah.
Harga minyak mentah berjangka AS pun melonjak, mencapai hampir USD 77 per barel. Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital pengiriman minyak global, semakin meningkatkan kekhawatiran investor.
Meningkatnya harga minyak dan ketidakpastian geopolitik menambah tekanan pada pasar saham global, yang sudah menghadapi tantangan dari perubahan kebijakan perdagangan internasional.
Secara keseluruhan, penurunan IHSG pada sesi pertama Senin, 23 Juni 2025, merupakan refleksi dari kombinasi faktor domestik dan global. Pelemahan di hampir seluruh sektor serta sentimen negatif akibat konflik geopolitik di Timur Tengah turut berkontribusi terhadap penurunan indeks.











