Raksasa fesyen Swedia, H&M, membukukan laba yang lebih baik dari perkiraan pada kuartal II 2025. Keberhasilan ini menunjukkan strategi perusahaan yang kini lebih fokus pada profitabilitas daripada pertumbuhan penjualan, terbukti efektif.
CEO H&M, Daniel Erver, menjelaskan bahwa perusahaan berhasil melampaui ekspektasi analis. Laba operasi mencapai 5,91 miliar crown Swedia (sekitar Rp 10,1 triliun), sementara analis memprediksi 5,88 miliar crown Swedia. Perusahaan juga optimis terhadap kinerja keuangan di masa mendatang.
Kinerja Kuat H&M di Kuartal II 2025
Pertumbuhan penjualan di bulan Juni diperkirakan mencapai 3% dalam mata uang lokal. Ini merupakan peningkatan signifikan setelah penurunan 6% pada periode yang sama tahun 2024.
Keberhasilan ini didorong oleh koleksi terbaru H&M yang dinilai lebih up-to-date, mengikuti tren, dan modis. Hal ini terbukti dari penerimaan pelanggan yang kuat sepanjang kuartal.
Produk-produk seperti gaun, blus, dan rok bermotif kotak-kotak dan gingham menjadi sangat populer, dan tren ini diperkirakan berlanjut hingga musim gugur.
Peningkatan Penjualan Aksesori dan Margin Laba
H&M juga mengalami peningkatan penjualan aksesori. Tren aksesori mini seperti tas, sepatu kets, dan aksesori ponsel turut didorong oleh popularitas di media sosial.
Meskipun margin laba operasi H&M tumbuh 10,4%, sedikit menurun dari 11,9% tahun lalu, angka ini tetap lebih baik dari perkiraan analis. Hal ini menunjukkan efisiensi operasional yang terjaga.
Analis Alphavalue, Jie Zhang, menilai pencapaian margin yang lebih baik dari ekspektasi memberikan sinyal positif bagi pasar. Strategi peningkatan merek H&M dinilai mulai membuahkan hasil.
Tantangan di Pasar Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, di mana H&M memiliki sekitar 500 toko, sentimen konsumen menunjukkan penurunan. Hal ini dipengaruhi oleh tarif impor dan kenaikan harga dari para pesaing.
Untuk menghadapi tantangan ini, H&M tetap fokus menjaga harga tetap kompetitif. Hal ini penting mengingat sensitivitas harga konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi global dan di AS.
Penjualan H&M pada kuartal Maret hingga Mei 2025 mencapai USD 5,99 miliar. Perusahaan perlu strategi yang lebih terarah untuk meningkatkan pangsa pasar di Amerika Serikat.
Perbandingan dengan Kinerja Matahari Department Store
Sebagai perbandingan, PT Matahari Department Store Tbk (LPFF) juga mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal I 2025. Pendapatan mencapai Rp 2,39 triliun, naik 21,5% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih Matahari juga meningkat tajam, mencapai Rp 643 miliar, naik 97,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh penurunan biaya pembiayaan dan pergeseran waktu Lebaran.
Meskipun kedua perusahaan menunjukkan kinerja yang baik, tantangan ekonomi global dan persaingan di pasar tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Secara keseluruhan, kinerja H&M pada kuartal II 2025 menunjukkan tren positif, meskipun tantangan tetap ada, khususnya di pasar AS. Fokus pada profitabilitas dan strategi peningkatan merek terbukti efektif dalam meningkatkan laba. Namun, perusahaan perlu terus beradaptasi dengan perubahan tren konsumen dan dinamika pasar global untuk mempertahankan momentum pertumbuhannya.











