PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), atau Harita Nickel, optimis menatap tahun 2025. Meskipun harga nikel global sedang mengalami tren penurunan, perusahaan menargetkan peningkatan pendapatan dan laba bersih. Strategi pertumbuhan operasional menjadi kunci pencapaian target tersebut.
Kenaikan produksi nikel menjadi fokus utama Harita Nickel. Hal ini didorong oleh mulai beroperasinya PT Gane Permai Sentosa (GTS) secara komersial pada tahun 2025. Produksi tambahan dari GTS akan memperkuat kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Produksi Nikel Meningkat Berkat Kontribusi PT GTS
PT GTS, sebagai anak usaha baru, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi bijih nikel Harita Nickel pada tahun 2025. Seluruh hasil produksi akan dialirkan ke smelter milik PT Megah Surya Pertiwi (MSP) dan PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF).
Kedua smelter tersebut beroperasi dengan teknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dan telah mencapai kapasitas produksi maksimal. Dengan demikian, peningkatan produksi bijih nikel dari PT GTS akan langsung diproses dan dioptimalkan.
Kontribusi Meningkat dari Entitas Asosiasi
Selain anak usaha langsung, Harita Nickel juga berharap peningkatan kontribusi laba dari entitas asosiasi. PT Halmahera Persada Lygend (HPL), PT Obi Nickel Cobalt (ONC), dan PT Kalpika Sumber Energy (KPS) menjadi andalan.
Meskipun volatilitas harga nikel global mempengaruhi kinerja entitas asosiasi, beberapa di antaranya diproyeksikan berkontribusi lebih besar tahun ini. PT ONC ditargetkan beroperasi penuh pada 2025, sementara PT KPS mulai berproduksi pada tahun yang sama.
Perkembangan Positif dari PT ONC dan PT KPS
PT Obi Nickel Cobalt (ONC) yang beroperasi penuh di tahun 2025 akan meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi. Hal ini diharapkan berdampak positif pada pendapatan perusahaan.
PT Kalpika Sumber Energy (KPS), yang juga memulai produksi di tahun 2025, akan menambah volume produksi bijih nikel. Dengan demikian, produksi keseluruhan Harita Nickel akan semakin meningkat.
Kinerja Kuat Lini Bisnis Pertambangan Harita Nickel
Pada kuartal pertama 2025, Harita Nickel mencatatkan kinerja positif dari lini bisnis pertambangan. Penjualan bijih nikel mencapai 5,49 juta wet metric ton (wmt) ke perusahaan afiliasi.
Dari lini High Pressure Acid Leaching (HPAL), tercatat produksi 30.263 ton kandungan nikel. Rinciannya adalah Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebesar 19.837 ton dan Nikel Sulfat (NiSo4) sebanyak 10.426 ton.
Capaian Signifikan di Kuartal Pertama 2025
Smelter RKEF fase pertama mencapai kapasitas penuh pada Maret 2025. Kontribusi penjualan dari lini RKEF mencapai 43.873 ton kandungan nikel dalam FeNi.
Secara keseluruhan, pendapatan Harita Nickel pada periode fiskal yang berakhir 31 Maret 2025 mencapai Rp 7,13 triliun. Laba kotor mencapai Rp 2,10 triliun, dan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,66 triliun.
Harita Nickel menunjukkan kinerja keuangan yang solid di tengah fluktuasi harga nikel global. Kombinasi strategi peningkatan produksi dan optimalisasi operasional di berbagai lini bisnis menjadi kunci keberhasilan perusahaan dalam mencapai targetnya di tahun 2025. Keberhasilan ini juga menunjukkan potensi besar industri nikel Indonesia dan kemampuan Harita Nickel untuk beradaptasi dengan dinamika pasar.











