Lembaga Keuangan Perumahan Federal Amerika Serikat (FHFA) baru-baru ini mengeluarkan arahan yang berpotensi mengubah lanskap hipotek di negara tersebut. Direktur FHFA, William J. Pulte, menginstruksikan Fannie Mae dan Freddie Mac, dua raksasa hipotek AS, untuk mengembangkan proposal yang memasukkan kepemilikan kripto dalam penilaian risiko hipotek keluarga tunggal.
Langkah ini menandai babak baru dalam integrasi aset kripto ke dalam sistem keuangan konvensional. Selama ini, aset digital umumnya belum dipertimbangkan dalam model risiko pemberi pinjaman hipotek, kecuali jika dikonversi terlebih dahulu ke mata uang fiat (seperti dolar AS).
Kripto sebagai Agunan Hipotek: Perubahan Besar dalam Penilaian Risiko
Arahan FHFA ini memungkinkan kripto dipertimbangkan sebagai bagian dari aset pemohon hipotek, sebelumnya hal ini tidak diperbolehkan. Namun, setiap lembaga pemberi pinjaman harus mengajukan proposal yang disetujui dewan sebelum menerapkan kebijakan baru ini.
Hanya kepemilikan kripto yang dapat diverifikasi di bursa AS yang teregulasi yang akan dipertimbangkan. Langkah ini bertujuan untuk meminimalisir risiko, mengingat volatilitas pasar kripto yang cukup tinggi.
Perlu diperhatikan bahwa arahan ini tidak mencakup aset kripto yang disimpan sendiri (self-custody). Hal ini menimbulkan kekhawatiran, karena pengguna kripto yang menghargai desentralisasi mungkin kesulitan untuk berpartisipasi.
Potensi Konflik Kepentingan dan Kritik terhadap Kebijakan Baru
Kritik muncul terkait potensi konflik kepentingan yang melibatkan Direktur FHFA, William J. Pulte. Pasangannya dilaporkan memiliki Bitcoin senilai USD 500.000 hingga USD 1 juta pada Januari 2025.
Meskipun tidak ada tuduhan pelanggaran etika, waktu pengungkapan informasi ini memicu pertanyaan tentang potensi bias dalam kebijakan baru tersebut. Transparansi dan akuntabilitas menjadi sangat penting dalam situasi seperti ini.
Adopsi Kripto yang Semakin Meningkat di Sektor Keuangan
Penerimaan kripto sebagai agunan bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Pada Juni 2025, JPMorgan Chase mulai menerima dana yang diperdagangkan di bursa Bitcoin sebagai agunan pinjaman.
Bank kripto Anchorage Digital juga telah menawarkan pinjaman yang didukung kripto, menerima aset seperti Solana dan Ethereum sebagai agunan. Hal ini menunjukkan tren yang semakin menguat, yaitu institusi keuangan konvensional semakin nyaman menggunakan aset digital.
Kemitraan Chainlink dengan Mastercard juga turut mempercepat adopsi kripto. Kerjasama ini memungkinkan tiga miliar pemegang kartu Mastercard untuk membeli kripto secara on-chain.
Integrasi ini dijalankan melalui kemitraan dengan berbagai entitas Web3, termasuk Shift4 Payments, Swapper Finance, XSwap, dan ZeroHash. Mereka menyediakan layanan on-chain dan likuiditas untuk konversi mata uang fiat ke kripto.
Mastercard dan Visa telah aktif merangkul kripto dalam beberapa tahun terakhir, melalui penerbitan kartu yang memungkinkan pengguna untuk membelanjakan kripto dan kemitraan dengan bursa kripto seperti Coinbase.
Kemajuan ini memperlihatkan upaya untuk memperluas akses ke sistem aset digital. Raj Dhamodharan, wakil presiden eksekutif Mastercard, menekankan pentingnya konektivitas yang mudah antara dunia fiat dan ekosistem aset digital.
Kesimpulannya, arahan FHFA untuk mempertimbangkan kripto dalam penilaian hipotek menandai tonggak penting dalam adopsi aset digital di Amerika Serikat. Meskipun terdapat kekhawatiran terkait potensi konflik kepentingan dan keterbatasan dalam kebijakan, tren ini menunjukkan arah integrasi kripto yang semakin kuat ke dalam sistem keuangan konvensional. Namun, transparansi, regulasi yang ketat, dan perlindungan konsumen tetap menjadi hal yang krusial untuk memastikan perkembangan yang berkelanjutan dan aman.











