Kenaikan nilai tukar Euro terhadap Dolar AS (EUR/USD) pada semester pertama 2025 telah memicu peningkatan signifikan pada pasar stablecoin yang dipatok pada Euro. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran minat investor dari stablecoin berbasis dolar AS menuju alternatif berbasis Euro.
Lonjakan nilai Euro, yang mencapai 12,88% menurut data TradingView, melebihi performa Nasdaq dan S&P 500, serta hampir menyamai kenaikan Bitcoin. Fenomena ini menarik perhatian para pelaku pasar kripto dan memengaruhi strategi investasi mereka.
Lonjakan Nilai Euro Dorong Pertumbuhan Stablecoin Berbasis Euro
Data dari Coingecko menunjukkan kapitalisasi pasar kumulatif 21 stablecoin yang dipatok pada Euro meningkat 44%, dari USD 310 juta menjadi USD 480 juta (sekitar Rp 7,7 triliun).
EURC Circle, stablecoin yang terdaftar di Amerika Serikat, menjadi yang paling menonjol dengan peningkatan kapitalisasi pasar hingga 138% mencapai USD 200,36 juta (sekitar Rp 3,2 triliun).
Seorang pembawa acara The Modern Market Show di platform X dengan nama samaran Legendary bahkan menyatakan bahwa mengalihkan stablecoin dari USDC/USDT ke stablecoin berbasis Euro merupakan salah satu keputusan investasi terbaiknya tahun ini.
Dominasi USDT Tetap Kuat Meskipun Munculnya Alternatif
Meskipun stablecoin berbasis Euro menunjukkan pertumbuhan yang pesat, kapitalisasi pasar gabungannya masih jauh lebih rendah dibandingkan stablecoin dolar AS yang mencapai USD 254,88 miliar (sekitar Rp 4,1 triliun).
Tether’s USDT tetap menjadi pemain dominan di pasar stablecoin, mencapai pasokan tertinggi sepanjang masa sebesar USD 156,1 miliar (sekitar Rp 2,5 kuadriliun).
Sebagian besar pasokan USDT (90%) terkonsentrasi di jaringan Ethereum dan Tron. Lebih dari setengahnya berada di Tron (TRX), sementara hampir 40% di Ethereum (ETH).
Sementara itu, stablecoin USDC yang diterbitkan Circle mengalami peningkatan popularitas di berbagai blockchain yang lebih kecil.
Dominasi USDT dan Dampak Regulasi
Meskipun USDC mengalami peningkatan popularitas, dominasi USDT di pasar stablecoin tetap stabil sekitar 62,10%, sementara USDC menguasai sekitar 24%.
Dominasi USDT sempat menurun menjelang akhir tahun 2024, bertepatan dengan implementasi peraturan stablecoin MiCA Uni Eropa.
Tether memilih untuk menarik diri dari pasar daripada mematuhi regulasi MiCA. Mereka menghentikan penerbitan EURT dan mengalami delisting di beberapa bursa utama.
Peristiwa ini menunjukkan tantangan regulasi yang dihadapi industri stablecoin dan bagaimana hal tersebut dapat memengaruhi dinamika pasar.
Kesimpulannya, pergerakan nilai tukar mata uang global secara signifikan mempengaruhi pasar stablecoin. Meskipun USDT masih mendominasi, peningkatan popularitas stablecoin berbasis Euro menunjukkan potensi diversifikasi dan kebutuhan akan alternatif stablecoin selain yang berbasis dolar AS. Perkembangan regulasi juga menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam dinamika pasar ini.
Perlu diingat bahwa setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Lakukan riset dan analisis yang menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi di pasar kripto yang volatile.











