Seorang warga negara Rusia, Iurii Gugnin (38), ditangkap dan didakwa di Brooklyn atas dugaan skema pencucian uang internasional yang rumit. Ia diduga memindahkan lebih dari USD 500 juta (sekitar Rp 8,14 triliun dengan kurs Rp 16.284 per dolar AS) atas nama bank-bank Rusia yang terkena sanksi dan entitas lainnya.
Penangkapan Gugnin dilakukan pada Senin, 9 Juni 2025, dan ia ditahan tanpa jaminan sampai persidangan. Kasus ini melibatkan perusahaan kripto milik Gugnin yang berbasis di AS.
Dakwaan terhadap Iurii Gugnin: Pencucian Uang dan Pelanggaran Sanksi
Gugnin menghadapi 22 tuduhan, termasuk penipuan transfer dan bank, pelanggaran sanksi dan kontrol ekspor AS, pencucian uang, dan kegagalan untuk menerapkan protokol anti pencucian uang yang diwajibkan.
Asisten Jaksa Agung Eisenberg menyatakan bahwa Gugnin mengubah perusahaan kripto miliknya menjadi jalur rahasia untuk uang kotor. Ini memungkinkan dana tersebut mengalir melalui sistem keuangan AS untuk membantu bank-bank Rusia yang terkena sanksi.
Evita Investments dan Evita Pay, perusahaan kripto milik Gugnin, diduga memproses pembayaran sekitar USD 530 juta. Asal dan tujuan dana tersebut disembunyikan dengan cermat.
Proses pencucian uang ini diduga dilakukan antara Juni 2023 dan Januari 2025. Gugnin menggunakan bank-bank AS dan bursa kripto, terutama menggunakan Tether, stablecoin yang dipatok pada dolar AS.
Klien Gugnin mencakup individu dan bisnis yang terkait dengan lembaga Rusia yang terkena sanksi, termasuk Sberbank, VTB Bank, Sovcombank, Tinkoff, dan perusahaan energi milik Rosatom.
Metode Gugnin Mengelabui Sistem Keuangan
Untuk menjalankan skema tersebut, Gugnin diduga salah menggambarkan cakupan bisnisnya.
Ia juga memalsukan dokumentasi kepatuhan dan berbohong kepada bank dan platform aset digital tentang hubungannya dengan Rusia.
Jaksa penuntut mengungkapkan bahwa Gugnin menutupi sumber dana melalui akun-akun palsu.
Lebih lanjut, ia diduga memalsukan lebih dari 80 faktur dan menghapus identitas rekanan Rusia secara digital.
Departemen Kehakiman AS menyatakan Gugnin memiliki hubungan langsung dengan anggota badan intelijen Rusia dan pejabat di Iran.
Gugnin juga dituduh membantu ekspor teknologi AS yang sensitif ke klien Rusia, termasuk server yang dikendalikan antiterorisme.
Profil Gugnin pernah dimuat di Wall Street Journal sebagai penyewa kaya di Manhattan. Ia dilaporkan membayar USD 19.000 per bulan untuk sebuah apartemen.
Lonjakan Kerugian Kripto dan Perkembangan Positif
Pada bulan April 2025, kerugian akibat peretasan dan penipuan kripto melonjak hingga 1.100% dibandingkan Maret.
Lonjakan ini didorong oleh pencurian Bitcoin senilai hampir USD 331 juta (sekitar Rp 5,4 triliun) dari seorang lansia AS.
Total kerugian pada April 2025 mencapai USD 364 juta (sekitar Rp 6,04 triliun), menurut laporan CertiK.
Penipuan phishing, rekayasa sosial, dan eksploitasi kelemahan sistem menjadi penyebab utama kerugian ini.
Meskipun demikian, ada beberapa perkembangan positif. CertiK melaporkan bahwa sekitar USD 18,2 juta berhasil dikembalikan oleh peretas topi putih.
Beberapa platform seperti KiloEx dan ZKsync berhasil memulihkan dana yang hilang akibat serangan siber.
Meskipun terjadi lonjakan kerugian pada April 2025, bulan-bulan sebelumnya menunjukkan tren yang lebih rendah.
Namun, Februari 2025 tetap menjadi bulan dengan kerugian tertinggi, yaitu USD 1,53 miliar, sebagian besar disebabkan oleh peretasan terhadap platform Bybit.
Kasus Gugnin menyoroti risiko pencucian uang dan pelanggaran sanksi melalui kripto. Penting bagi platform kripto untuk meningkatkan keamanan dan kepatuhan terhadap regulasi untuk mencegah aktivitas ilegal serupa.
Perkembangan teknologi kripto yang pesat perlu diiringi dengan penguatan sistem keamanan dan regulasi yang efektif agar manfaatnya dapat dinikmati dengan aman dan bertanggung jawab. Penting bagi investor untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dalam berinvestasi di aset kripto.











