PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI, telah memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melakukan pembelian kembali (buyback) sahamnya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Total anggaran yang dialokasikan untuk buyback ini mencapai maksimal Rp 1,5 triliun.
Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diadakan di Menara BNI pada tanggal 26 Maret 2025. Jadwal RUPST awalnya direncanakan pada 13 Maret 2025, namun mengalami penundaan untuk menyesuaikan dengan jadwal RUPST bank-bank lain di Himbara (Himpunan Bank Milik Negara).
Penundaan ini bertujuan untuk memastikan semua kebijakan yang diputuskan telah sesuai dengan regulasi terbaru dan memberikan waktu yang cukup bagi BNI dalam mempersiapkan agenda rapat. Bank-bank lain di Himbara, seperti BRI, Bank Mandiri, dan BTN juga melakukan penyesuaian jadwal RUPST mereka.
Tujuan Buyback Saham BNI
Saham BNI yang dibeli kembali dan disimpan sebagai saham treasuri (treasury stock) akan digunakan untuk beberapa program. Salah satunya adalah program Kepemilikan Saham Pegawai dan/atau Direksi dan Dewan Komisaris yang memenuhi syarat. Penggunaan lainnya akan mengikuti persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Strategi buyback saham ini merupakan langkah strategis yang cukup umum dilakukan oleh perusahaan publik. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan nilai saham perusahaan di pasar. Dengan mengurangi jumlah saham yang beredar, harga saham diharapkan akan meningkat karena permintaan akan lebih tinggi.
Selain itu, buyback juga dapat menjadi sinyal positif bagi investor, menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Ini juga bisa menjadi cara untuk mengelola arus kas perusahaan yang melimpah.
Pembagian Dividen BNI
RUPST BNI juga menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 13,95 triliun untuk tahun buku 2024. Jumlah ini setara dengan 65 persen dari laba bersih BNI tahun 2024 yang mencapai Rp 21,46 triliun.
Setiap pemegang saham akan menerima dividen sebesar Rp 374,06 per saham. Pemegang saham mayoritas akan menerima dividen sebesar Rp 8,37 triliun yang akan dibayarkan ke rekening yang ditunjuk oleh Menteri BUMN.
Sisa laba bersih sebesar 35 persen atau sekitar Rp 7,51 triliun akan ditahan sebagai saldo laba. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat permodalan perusahaan dan mendukung ekspansi bisnis BNI di masa mendatang.
Kinerja Keuangan BNI Tahun 2024
BNI berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 21,5 triliun pada tahun 2024, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 20,9 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh transformasi digital yang meningkatkan tabungan sebesar 11 persen (YoY).
Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan momentum penting. “Pencapaian yang kami raih pada 2024 menjadi momentum penting untuk menghadapi masa depan. Kami optimis bahwa dengan terus berinovasi dan fokus pada kebutuhan nasabah, BNI akan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Royke.
Transformasi digital BNI juga ditandai dengan peluncuran aplikasi mobile banking baru, wondr by BNI (untuk ritel) dan BNIdirect (untuk bisnis dan korporasi). Kedua aplikasi ini dirancang untuk meningkatkan CASA transaksional terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK).
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Kredit
Total DPK BNI hingga akhir Desember 2024 mencapai Rp 805,5 triliun. Terdapat pertumbuhan yang signifikan pada tabungan di semester kedua tahun 2024 setelah peluncuran wondr by BNI.
Direktur Keuangan BNI, Novita Widya Anggraini, menjelaskan bahwa kinerja intermediasi BNI tumbuh positif dan seimbang. Kredit tumbuh 11,6 persen (YoY) menjadi Rp 775,87 triliun. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen korporasi (17,6 persen) dan konsumer (14,5 persen).
“Perusahaan Anak juga mencatatkan pertumbuhan kredit signifikan sebesar 79,7 persen YoY dengan profitabilitas tetap terjaga,” tambah Novita. Secara keseluruhan, kinerja keuangan BNI di tahun 2024 menunjukkan tren positif dan menjanjikan.
Kesimpulan: BNI menunjukkan kinerja keuangan yang kuat di tahun 2024, ditandai dengan peningkatan laba bersih dan DPK. Langkah buyback saham dan pembagian dividen menunjukkan optimisme perusahaan terhadap masa depan, sekaligus upaya manajemen untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham.











