Harga Bitcoin (BTC) terus merangkak naik dan kini mendekati angka USD 120.000. Kenaikan signifikan ini memicu pertanyaan menarik di kalangan analis dan investor: apakah Bitcoin mampu menembus angka USD 200.000? Untuk menjawabnya, beberapa analis menggunakan Teori Gelombang Elliott, sebuah metode analisis yang mempelajari siklus pasar berdasarkan perilaku psikologis investor. Metode ini membantu memahami tren dan potensi pergerakan harga di masa depan.
Teori Gelombang Elliott membagi pergerakan harga menjadi dua fase utama. Fase pertama terdiri dari lima gelombang impulsif (naik), yang mencerminkan optimisme pasar. Fase kedua terdiri dari tiga gelombang korektif (turun), yang merepresentasikan periode kehati-hatian investor. Dinamika antara kedua fase ini memberikan gambaran tentang tren pasar dan membantu dalam prediksi.
Mengenal Lebih Dalam Teori Gelombang Elliott
Teori Gelombang Elliott didasarkan pada premis bahwa pasar bergerak secara siklis, mengikuti pola gelombang yang berulang. Pola tersebut mencerminkan sentimen pasar, mulai dari optimisme hingga kekhawatiran. Memahami pola ini bisa membantu investor dalam pengambilan keputusan investasi.
Analisis menggunakan Teori Gelombang Elliott membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang berbagai jenis gelombang, termasuk gelombang impulsif dan korektif. Interpretasi pola ini memerlukan keahlian dan pengalaman, karena penentuan titik awal dan akhir gelombang dapat bersifat subjektif.
Analisis Bitcoin dengan Teori Gelombang Elliott
Berdasarkan grafik harian Bitcoin, terlihat bahwa harga sempat berkonsolidasi di sekitar USD 65.000. Kemudian, terjadi lonjakan hingga USD 90.000 pada gelombang impulsif pertama, sesuai dengan pola Elliott.
Setelah lonjakan tersebut, terjadi koreksi minor sebelum Bitcoin memasuki gelombang ketiga. Gelombang ketiga ini, dalam Teori Gelombang Elliott, dikenal sebagai fase terkuat dalam siklus bullish. Pergerakan harga saat ini mengindikasikan Bitcoin sedang memasuki gelombang kelima.
Lonjakan volume perdagangan yang signifikan menandakan adanya partisipasi aktif dari pembeli institusional. Hal ini memperkuat sinyal bahwa pola Elliott sedang berlangsung dan mendukung potensi kenaikan harga lebih lanjut.
Indikasi Kuat dari Volume Perdagangan
Tingginya volume perdagangan menunjukkan keyakinan investor akan tren kenaikan harga Bitcoin. Partisipasi pasar yang luas semakin menguatkan potensi pergerakan harga yang diprediksi oleh Teori Gelombang Elliott.
Perlu diingat bahwa analisis teknikal, termasuk Teori Gelombang Elliott, bukan merupakan jaminan kepastian. Penting untuk mempertimbangkan berbagai faktor lain sebelum mengambil keputusan investasi.
Potensi Kenaikan dan Risiko Koreksi
Jika gelombang kelima berlanjut seperti pada siklus bullish sebelumnya (2017 dan 2021), Bitcoin berpotensi melampaui rekor tertinggi sebelumnya. Target harga antara USD 140.000 hingga USD 200.000 dianggap realistis, asalkan momentum bullish tetap terjaga.
Namun, kewaspadaan tetap penting. Setelah gelombang kelima berakhir, biasanya diikuti oleh pola korektif A-B-C. Fase korektif ini dapat menguji mental investor dan menyebabkan penurunan harga sementara sebelum tren bullish berlanjut.
Beberapa indikator teknikal perlu dipantau. RSI (Relative Strength Index) yang memasuki zona jenuh beli bisa menjadi sinyal peringatan bahwa harga sudah terlalu tinggi. Penembusan garis tren support naik juga bisa menandai awal koreksi gelombang (2), berpotensi menyebabkan penurunan harga sebelum kembali naik.
Kesimpulannya, Teori Gelombang Elliott memberikan gambaran potensi kenaikan harga Bitcoin yang signifikan. Namun, investor harus selalu berhati-hati dan mempertimbangkan berbagai faktor risiko sebelum membuat keputusan investasi. Analisis teknikal hanyalah salah satu alat bantu, dan bukan jaminan keuntungan.











