Volatilitas Bitcoin yang tinggi di masa awal sempat membuat investor ragu. Namun, menurut Philippe Laffont, pendiri Coatue Management LLC, beberapa faktor menunjukkan Bitcoin akan menjadi aset penting dalam portofolio investasi di masa depan. Pernyataan ini disampaikan Laffont dalam State of Crypto Summit Coinbase di New York pada Senin, 16 Juni 2025, seperti dikutip dari CNBC.
Laffont mencatat penurunan volatilitas Bitcoin seiring berjalannya waktu, meski Bitcoin sendiri berhasil melonjak hampir 13% di tahun 2025. Ia menjelaskan bahwa perubahan harga Bitcoin yang dramatis sebelumnya menjadi penghalang bagi investor potensial, termasuk Coatue sendiri.
Penurunan Volatilitas dan Penerimaan Institusional
Menurut Laffont, biaya untuk masuk ke pasar Bitcoin kini semakin rendah karena volatilitasnya yang berkurang. Ia menyebut penurunan beta Bitcoin –ukuran volatilitas aset relatif terhadap pasar– sebagai faktor menarik.
Penerimaan Bitcoin oleh investor institusional juga menjadi pertanda kematangan mata uang kripto. Sebagai contoh, BlackRock, perusahaan manajemen investasi raksasa, berupaya menghadirkan ETF Bitcoin ke pasar.
Prospek Jangka Panjang Bitcoin
Laffont membandingkan kinerja Bitcoin di tahun 2022 dengan Nasdaq. Bitcoin turun lebih dari 60% pada tahun 2022, sementara Nasdaq turun 33%. Namun, dalam periode 2-10 April 2025, setelah pengumuman kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, Bitcoin hanya turun sekitar 5%, sementara Nasdaq turun lebih dari 6%.
Jumlah dompet Bitcoin yang menyimpan kripto tersebut setidaknya selama sebulan sebelum menjualnya juga telah menurun drastis. Ini mengindikasikan pergeseran ke arah investasi jangka panjang, bukan spekulasi jangka pendek.
Bitcoin saat ini hanya menyumbang sebagian kecil dari kekayaan bersih global, sekitar USD 2 triliun dari total USD 500 triliun. Laffont berpendapat bahwa seiring pertumbuhan dan penerimaan Bitcoin, proporsi ini seharusnya meningkat.
Coatue sendiri telah berinvestasi di perusahaan kripto swasta dan publik, termasuk Dune Analytics, Hut 8, dan CoreWeave. Namun, Laffont mengaku sempat ragu dalam berinvestasi Bitcoin.
Kesederhanaan dan Potensi yang Terabaikan
Laffont menjelaskan filosofi investasinya yang menekankan ide-ide sederhana dan jelas. Ia mengakui telah mengabaikan aspek paling sederhana dari Bitcoin.
Ia mengakui telah meremehkan fakta bahwa selama Bitcoin dianggap berharga oleh orang lain, nilainya akan terus meningkat seiring waktu. Laffont kini menyesali keputusan investasinya di masa lalu dan menganjurkan alokasi aset pada Bitcoin sebagai perlindungan inflasi.
Laffont mengklasifikasikan basis kliennya menjadi tiga kelompok: mereka yang pasif, mereka yang mempertanyakan mengapa ia melewatkan peluang Bitcoin, dan mereka yang menghindari risiko tinggi. Kelompok terakhir, menurutnya, semakin berkurang jumlahnya.
Rekomendasi dan Kesimpulan
Meskipun Laffont kini lebih optimis terhadap Bitcoin, ia mengingatkan untuk tidak terbawa euforia dan tetap berpegang pada prinsip-prinsip investasi dasar. Ia merekomendasikan untuk tidak berinvestasi terlalu banyak pada Bitcoin sehingga berdampak signifikan terhadap portofolio.
Investasi yang lebih kecil dan jangka panjang akan lebih menguntungkan daripada investasi besar yang menimbulkan kekhawatiran. Kesimpulannya, meski volatilitas Bitcoin telah menurun dan penerimaan institusional meningkat, investasi tetap harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan terukur.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab pembaca. Lakukan riset dan analisis menyeluruh sebelum berinvestasi dalam kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul dari keputusan investasi.











