Pasar kripto kembali menunjukkan performa positif menjelang akhir pekan. Bitcoin, mata uang kripto terbesar, mencapai rekor tertinggi baru, sementara Ethereum dan Cardano juga mencatatkan kenaikan signifikan. Lonjakan ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk optimisme pasar terhadap potensi penurunan suku bunga oleh The Fed. Mari kita telusuri lebih dalam dinamika pasar kripto yang menarik ini.
Berdasarkan data Coinmarketcap.com pada Jumat, 11 Juli 2025, Bitcoin (BTC) mengalami kenaikan harga 6,04% dalam 24 jam terakhir. Kenaikan ini semakin signifikan jika dilihat dalam sepekan terakhir, mencapai 8,1%.
Harga BTC menembus angka USD 117.885 atau sekitar Rp 1,91 miliar (dengan asumsi kurs USD 16.219 per rupiah). Kapitalisasi pasar Bitcoin pun melampaui USD 2,3 triliun.
Lonjakan Harga Bitcoin: Antisipasi Pelonggaran Moneter The Fed
Kenaikan harga Bitcoin yang spektakuler, bahkan mencapai rekor tertinggi di angka USD 112.000 (sekitar Rp 1,81 miliar) pada Kamis, 10 Juli 2025, dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
Hal ini diperkuat oleh risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Juni yang menunjukkan sebagian besar pejabat The Fed memproyeksikan setidaknya satu kali penurunan suku bunga pada tahun 2025.
Bahkan ada kemungkinan pemangkasan suku bunga dilakukan segera pada rapat 30 Juli, tergantung pada perkembangan data inflasi. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyatakan lonjakan ini sebagai sinyal antisipasi investor terhadap peningkatan likuiditas pasar akibat pelonggaran kebijakan moneter.
Fyqieh menambahkan bahwa level USD 112.000 merupakan angka psikologis penting, dan jika momentum berlanjut, BTC berpotensi menguji level resistensi berikutnya di USD 115.000 hingga USD 118.000.
Sentimen Pasar dan Faktor-faktor Pendukung
Harapan penurunan suku bunga The Fed pada kuartal ketiga juga meningkatkan permintaan ETF spot BTC di AS.
Total aliran masuk mencapai USD 80,6 juta, yang berkontribusi pada rekor tertinggi BTC pada 9 Juli.
Meskipun terjadi akumulasi dari investor jangka pendek dan panjang, analis tetap mengingatkan bahwa permintaan spot di bursa kripto masih relatif lemah.
Oleh karena itu, keberlanjutan tren kenaikan harga masih dipertanyakan tanpa dukungan volume yang solid dari pasar ritel.
Dua momen krusial akan menentukan arah selanjutnya: rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Juni pada 11 Juli dan keputusan suku bunga The Fed pada 30 Juli.
Data CPI akan menjadi penentu utama peluang pemangkasan suku bunga dan sentimen positif terhadap aset kripto.
Namun, dinamika global juga berperan. Risalah FOMC mencatat kekhawatiran baru terkait tekanan inflasi akibat tarif perdagangan yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Meskipun Trump membantah dampaknya, beberapa pejabat The Fed tetap bersikap hati-hati.
Analisis Teknikal dan Prospek Bitcoin
Secara teknikal, jika Bitcoin berhasil mempertahankan harga di atas resistensi USD 112.500, potensi penguatan menuju USD 115.000 hingga USD 118.000 terbuka lebar.
Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut dapat memicu koreksi harga, dengan support terdekat di USD 110.800 dan USD 109.750.
Indikator teknikal menunjukkan tren positif, dengan RSI di atas level 50 dan MACD bergerak di zona bullish.
Lonjakan harga Bitcoin mencerminkan reaksi pasar terhadap kebijakan moneter dan keyakinan terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Karakteristik utama Bitcoin, yaitu desentralisasi, menjadi daya tarik bagi investor yang mencari alternatif sistem keuangan yang lebih adil dan transparan.
Meskipun mengalami fluktuasi harga, Bitcoin tetap menjadi aset kripto yang paling berpengaruh dan diperdagangkan secara luas, menarik perhatian para investor dan pelaku pasar.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk data ekonomi makro, kebijakan moneter, dan sentimen pasar. Pemantauan yang cermat terhadap indikator-indikator kunci tetap penting untuk memahami dinamika pasar kripto yang dinamis ini.











