Pasar kripto menunjukkan pergerakan dinamis pada Kamis, 26 Juni 2025. Bitcoin, mata uang kripto terbesar, mencatatkan penguatan, sementara beberapa lainnya mengalami penurunan. Pergerakan ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang kompleks, khususnya pasca-konflik Iran-Israel.
Data dari Coinmarketcap menunjukkan fluktuasi harga yang beragam di antara aset kripto utama. Mari kita lihat detailnya lebih lanjut.
Harga Kripto Beragam: Bitcoin Menguat, Ethereum Melemah
Bitcoin (BTC) menunjukan performa positif dengan kenaikan 1,34% dalam 24 jam terakhir dan 2,30% dalam sepekan. Harga BTC saat ini mencapai Rp1.750.481.659,73.
Berbeda dengan Bitcoin, Ethereum (ETH) justru mengalami penurunan sebesar 0,97% dalam 24 jam dan 4,11% dalam sepekan. Harga ETH berada di level Rp39.471.355,76 per koin.
Stablecoin Tether (USDT) menunjukkan peningkatan kecil, 0,25% dalam 24 jam dan 0,08% dalam sepekan, diperdagangkan pada harga Rp16.338,08. XRP juga mengalami kenaikan tipis, 0,01% dalam 24 jam dan 0,77% dalam sepekan, dengan harga Rp35.673,95 per koin.
Binance Coin (BNB) menunjukan kenaikan 0,62% dalam 24 jam dan 0,69% dalam sepekan, dengan harga mencapai Rp10.548.476,76. Sebaliknya, Solana (SOL) mengalami penurunan 1,45% dalam sehari dan 1,99% dalam sepekan, diperdagangkan pada Rp2.339.540,03 per koin.
USD Coin (USDC) mengalami kenaikan 0,24% dalam 24 jam dan 0,08% dalam sepekan, dengan nilai Rp16.328,93. Dogecoin (DOGE) mengalami penurunan 0,36% dalam sehari dan 3,38% sepekan, diperdagangkan pada harga Rp2.687,20 per token.
Cardano (ADA) menunjukan penurunan yang cukup signifikan, 3,19% dalam 24 jam dan 5,95% dalam sepekan, dengan harga Rp9.258,65 per koin. Sementara itu, Tron (TRX) mengalami sedikit kenaikan, 0,01% dalam 24 jam dan 0,10% sepekan, dengan harga Rp4.461,91.
Total kapitalisasi pasar kripto hari ini mencapai USD 3,29 triliun, meningkat 0,49% dalam 24 jam terakhir.
Bitcoin Tetap Kuat di Tengah Ketegangan Geopolitik
Fyqieh Fachrur, analis Tokocrypto, menjelaskan bahwa Bitcoin cenderung bertahan di tengah konflik geopolitik. Konflik Rusia-Ukraina (2022), Israel-Gaza (2023), dan Iran-Israel (2025) tidak terlalu berdampak signifikan terhadap harga Bitcoin dalam jangka panjang.
Fyqieh menambahkan bahwa konflik-konflik tersebut meningkatkan ekspektasi inflasi global, yang pada akhirnya menguntungkan Bitcoin dalam jangka panjang. Meskipun sempat turun setelah serangan rudal Israel ke Iran pada 13 Juni 2025, harga BTC cepat pulih.
Hal ini diperkuat dengan langkah Strategy, perusahaan milik Michael Saylor, yang mengakuisisi 10.001 BTC senilai USD 1 miliar pada 16 Juni 2025. Aksi ini menunjukkan kepercayaan institusional terhadap prospek jangka panjang Bitcoin.
Sensitivitas Bitcoin terhadap Reaksi Pasar Awal
Meskipun relatif stabil dalam jangka panjang, Fyqieh mengingatkan bahwa Bitcoin tetap sensitif terhadap reaksi pasar awal terhadap konflik. Kemungkinan tekanan jual dapat terjadi sesaat setelah konflik pecah.
Ia menekankan bahwa dampak konflik terhadap harga Bitcoin bergantung pada kedekatan geopolitik dan keterlibatan pasar keuangan global. Konflik internal seperti perang Tigray (2020) atau kudeta Myanmar (2021) misalnya, tidak berdampak signifikan terhadap harga Bitcoin.
Secara keseluruhan, pasar kripto tetap dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sentimen pasar dan perkembangan geopolitik. Pergerakan harga masing-masing aset kripto juga beragam, mencerminkan kompleksitas pasar kripto itu sendiri.











