Harga Bitcoin (BTC) mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Rabu, 7 Mei 2025. Kenaikan ini mencapai 2,89% dalam 24 jam terakhir, dan 2,4% dalam sepekan terakhir. Pergerakan positif ini terjadi di tengah berbagai sentimen pasar yang kompleks.
Saat ini, harga Bitcoin berada di angka USD 96.976, atau sekitar Rp 1,6 miliar (dengan asumsi kurs USD 1: Rp 16.521). Meskipun mengalami kenaikan, Bitcoin masih bergerak dalam kisaran USD 90.000 – USD 97.000 dalam sepekan terakhir, setelah reli yang signifikan pada akhir April mereda.
Lonjakan Harga Bitcoin Didorong Dialog Perdagangan AS-China
Salah satu faktor pendorong kenaikan harga Bitcoin adalah dialog perdagangan yang akan dilakukan pejabat tingkat tinggi Amerika Serikat dan China di Swiss pada pekan ini.
Pengumuman ini memicu optimisme di pasar, harapan akan de-eskalasi perang dagang antara dua negara ekonomi terbesar dunia.
Namun, optimisme ini tetap terbatas. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan tidak berencana menandatangani perjanjian perdagangan dalam waktu dekat.
Baik AS maupun China juga menunjukkan sedikit minat untuk de-eskalasi setelah menerapkan tarif perdagangan yang tinggi pada bulan April.
Meskipun tidak ada dampak langsung, harga kripto, termasuk Bitcoin, tetap sensitif terhadap perubahan sentimen pasar. Sifat spekulatif kripto menjadi faktor utama penyebabnya.
Kekhawatiran akan perang dagang AS-China yang berkepanjangan dan dampak ekonominya telah menyebabkan kerugian besar bagi Bitcoin pada awal tahun ini.
Strategi Pembelian Bitcoin oleh Michael Saylor
Selain sentimen geopolitik, pembelian Bitcoin oleh perusahaan milik Michael Saylor, Strategy, juga turut mempengaruhi harga.
Strategy membeli sekitar 1.895 Bitcoin seharga USD 180 juta (sekitar Rp 2,97 triliun).
Pembelian ini tergolong kecil dibandingkan pembelian sebelumnya sejak pertengahan Maret. Ini menandakan Strategy mungkin lebih berhati-hati setelah mencatat kerugian yang belum terealisasi sebesar USD 5,91 miliar pada aset Bitcoin mereka di kuartal pertama.
Sebelumnya, Strategy mengumumkan rencana penggalangan dana USD 21 miliar (sekitar Rp 346,99 triliun) melalui penawaran saham untuk membeli lebih banyak Bitcoin.
Misteri Satoshi Nakamoto dan Prediksi Changpeng Zhao
Di luar pergerakan harga Bitcoin, perbincangan mengenai identitas pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto, kembali mencuat.
Changpeng Zhao (CZ), mantan CEO Binance, mengungkapkan spekulasi menarik: Satoshi Nakamoto mungkin adalah kecerdasan buatan (AI) dari masa depan.
CZ mengaku tidak mengenal Satoshi secara pribadi, tetapi mengenal beberapa orang yang pernah bertukar email dengannya.
Ia juga tidak yakin apakah Satoshi adalah satu orang atau sebuah tim, namun mengakui kemampuan Satoshi untuk menghapus semua jejak digitalnya.
CZ juga memprediksi Bitcoin akan melampaui nilai emas di masa depan, suatu hal yang menurutnya pasti terjadi walau waktunya masih belum pasti.
Pada April 2025, Bitcoin sempat menjadi aset terbesar kelima berdasarkan kapitalisasi pasar, mengalahkan perak, Amazon, dan Google.
Saat ini, Bitcoin berada di posisi ketujuh dengan kapitalisasi pasar sekitar USD 1,88 triliun. Banyak pihak tetap optimistis Bitcoin akan melampaui emas (kapitalisasi pasar USD 22,1 triliun) suatu hari nanti.
Secara keseluruhan, lonjakan harga Bitcoin pada 7 Mei 2025 dipengaruhi oleh beragam faktor. Dari sentimen positif terkait dialog perdagangan AS-China hingga aktivitas pembelian oleh pelaku pasar besar seperti Strategy, serta spekulasi seputar sosok misterius Satoshi Nakamoto. Pergerakan Bitcoin ke depannya tetap menarik untuk diamati.











