Harga Bitcoin melesat ke angka fantastis pada Mei 2025. Nilai kripto terkemuka ini sempat menyentuh rekor tertinggi baru di angka USD 119.980 (sekitar Rp 1,95 miliar dengan asumsi kurs Rp 16.295 per dolar AS). Namun, pergerakan harga kemudian terkoreksi pada pertengahan Juni, berada di kisaran USD 100.000 hingga USD 108.000. Lonjakan ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang memanas dan dinamika ekonomi global yang menarik perhatian investor.
Ketidakpastian global yang meningkat, terutama akibat konflik antara Iran dan Israel, menjadi salah satu faktor pendorong. Konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak dan emas. Menariknya, indeks dolar AS (DXY) justru melemah ke titik terendah tahun ini. Kondisi ini menciptakan suasana yang menguntungkan bagi aset alternatif seperti Bitcoin.
Bitcoin Sentuh Rekor Tertinggi Baru
Pada akhir Mei 2025, Bitcoin mencapai titik puncaknya di angka USD 112.000, sebelum mengalami koreksi. Koreksi ini dinilai sebagai aksi ambil untung oleh para investor. Saat ini, level support Bitcoin berada di sekitar USD 105.500 dan USD 104.670. Meskipun ada potensi terbentuknya pola *death cross*, tren jangka menengah masih menunjukkan sinyal bullish selama tidak terjadi penurunan harga yang signifikan.
Indikator RSI harian Bitcoin tercatat di angka 65. Angka ini menunjukkan potensi konsolidasi harga atau kelanjutan tren kenaikan, dengan catatan support harga tetap terjaga. Pergerakan harga selanjutnya akan sangat bergantung pada bagaimana pasar merespon dinamika geopolitik dan ekonomi global.
Analisis Tokocrypto: Pelemahan Dolar dan Ketidakpastian Global
Analyst Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, memberikan analisisnya mengenai pergerakan harga Bitcoin. Ia menjelaskan bahwa kombinasi pelemahan dolar AS dan ketidakpastian global mendorong investor untuk beralih ke aset alternatif, termasuk kripto.
Meskipun harga Bitcoin sempat turun 2,8% ke USD 103.000 pada 15 Juni, indeks Fear & Greed tetap berada di zona “greed”. Hal ini menandakan keyakinan pasar terhadap Bitcoin masih cukup tinggi. Aliran dana besar ke pasar kripto juga menjadi indikator positif. Rekor aliran dana sebesar USD 7,05 miliar tercatat pada Mei, dan tambahan USD 1,9 miliar hingga 16 Juni.
Sentimen Positif dari Makroekonomi dan Institusi
Dari sisi makroekonomi, inflasi AS menunjukkan tanda-tanda mulai melandai. Angka CPI Mei hanya naik 0,1%. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada kuartal IV 2025.
Kebijakan moneter yang lebih longgar biasanya akan mendorong kenaikan aset berisiko, seperti kripto. Hal ini diperkuat oleh sentimen positif dari institusi besar. ETF spot Bitcoin di AS mencatat arus masuk dana dalam jumlah besar pada pertengahan Juni.
MicroStrategy, melalui CEO-nya Michael Saylor, membeli 10.100 BTC senilai USD 1 miliar, meningkatkan total kepemilikan mereka menjadi sekitar 592.100 BTC. Perusahaan Jepang, Metaplanet, juga menambah kepemilikan Bitcoin mereka menjadi 10.000 BTC melalui penerbitan obligasi tanpa bunga. Arus masuk dana dari ETF dan akumulasi Bitcoin oleh institusi besar ini menjadi penopang kuat untuk harga Bitcoin di masa mendatang.
Sebagai penutup, pergerakan harga Bitcoin pada bulan Mei dan Juni 2025 menunjukkan dinamika yang kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Meskipun sempat mencapai rekor tertinggi, koreksi harga terjadi sebagai bagian dari siklus pasar. Namun, sentimen positif dari makroekonomi dan institusi besar tetap menjadi faktor penentu pergerakan harga Bitcoin ke depannya. Penting bagi investor untuk selalu melakukan riset dan analisis yang menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.











