PT Bank Jago Tbk (ARTO), sejak awal berdiri, berkomitmen sebagai bank berbasis teknologi yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi. Namun, kesuksesan Bank Jago tidak hanya bergantung pada teknologi dan strategi bisnis semata. Ada peran penting dari pengembangan sumber daya manusia yang sehat dan berkelanjutan.
Salah satu tokoh kunci di balik keberhasilan tersebut adalah Maya Kartika, Head of Culture, Communication and Sustainability Bank Jago. Dengan latar belakang psikologi dan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang SDM, Maya telah berkontribusi besar sejak tahap awal pengembangan Bank Jago.
Membangun Budaya Kerja yang Mendukung Pertumbuhan
Maya Kartika memegang teguh filosofi “grow the people, grow the bank”. Ia percaya bahwa pertumbuhan individu karyawan akan berdampak positif pada pertumbuhan Bank Jago secara keseluruhan. Menurutnya, manusia berkembang bukan karena paksaan, melainkan karena lingkungan yang mendukung.
Ia membandingkan karyawan dengan tanaman yang membutuhkan kondisi yang tepat untuk tumbuh subur. Bank Jago berupaya menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi setiap individu untuk berkembang secara alami. Nilai-nilai inti Bank Jago, seperti *life-centricity*, *fearless creativity*, *empowered agility*, dan *purposeful growth*, bukan sekadar slogan, melainkan hasil refleksi bersama para pendiri dan tim awal.
Proses penentuan nilai-nilai ini bermula dari pertanyaan mendasar: siapa kita, apa yang penting bagi kita, dan bagaimana kita ingin bekerja bersama. Nilai-nilai tersebut kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di Bank Jago.
Struktur Organisasi yang Sederhana dan Kolaboratif
Struktur organisasi Bank Jago dirancang sederhana dan kolaboratif untuk memfasilitasi pertumbuhan dan inovasi. Minimnya birokrasi memungkinkan karyawan untuk bekerja lintas tim, bertukar ide, dan berinisiatif secara efektif.
Contohnya adalah pengembangan sistem KYC (know your customer). Proyek ini tidak dikerjakan secara tertutup oleh satu unit saja. Tim turun langsung ke lapangan untuk mendengarkan masukan dari pengguna dan berkolaborasi dengan mitra. Proses ini dinilai penting karena mencerminkan nilai-nilai yang dianut Bank Jago.
Perbedaan pendapat di dalam tim justru dilihat sebagai kekuatan. Maya menyamakannya dengan senar gitar yang membutuhkan ketegangan tertentu untuk menghasilkan melodi yang indah. Perbedaan pandangan menciptakan dinamika dan mendorong inovasi, selama ada ruang untuk mendengar dan menyepakati arah bersama.
Kepemimpinan yang Partisipatif dan Berfokus pada Pengembangan Karyawan
Maya Kartika menjalankan kepemimpinan yang partisipatif, tidak menempatkan dirinya sebagai pusat pengambilan keputusan. Ia lebih memilih untuk terlibat langsung dalam ritme organisasi, mendengarkan aspirasi tim, dan memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang.
Program internship di Bank Jago, misalnya, tidak hanya sebatas program kerja praktik. Generasi muda diberi kesempatan untuk terlibat dalam pekerjaan yang berdampak nyata. Program Jago Digital Academy juga dirancang untuk mendidik dan membentuk talenta muda dengan pengalaman kerja nyata di industri digital.
Maya menekankan pentingnya membangun daya tahan organisasi, bukan hanya mengejar hasil cepat. Ia membandingkannya dengan membangun otot untuk mengangkat beban berat. Organisasi perlu memiliki kapasitas yang terus dilatih agar mampu menghadapi tantangan masa depan.
Bagi Maya, pekerjaan ini adalah ruang ekspresi yang menyatukan pikiran, emosi, dan makna. Ia merasa hidup ketika dapat berpikir, berinteraksi dengan orang lain, dan melihat dampak positif dari pekerjaannya.
Dengan pendekatan holistik yang berfokus pada pengembangan manusia, Bank Jago telah berhasil membangun budaya kerja yang positif dan produktif, yang menjadi kunci kesuksesan mereka di sektor perbankan digital Indonesia.











