Pasar kripto mengalami penurunan seragam pada Rabu, 2 Juli 2025, pukul 06.30 WIB. Sebagian besar kripto utama berada di zona merah, menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan. Bitcoin, sebagai mata uang kripto terbesar, memimpin penurunan ini.
Bitcoin (BTC) mencatat penurunan 1,41 persen dalam 24 jam terakhir dan 0,35 persen dalam sepekan. Harga BTC saat ini berada di level USD 105.625 per koin, atau sekitar Rp 1,71 miliar (dengan asumsi kurs Rp 16.203 per dolar AS). Penurunan ini mencerminkan sentimen pasar yang kurang optimis.
Penurunan Harga Kripto Utama
Ethereum (ETH), kripto terbesar kedua, juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. ETH turun 4,94 persen dalam sehari dan 4,31 persen dalam sepekan, diperdagangkan pada harga Rp 38,1 juta per koin. Penurunan ini sejalan dengan tren penurunan pasar kripto secara keseluruhan.
Binance Coin (BNB) juga terdampak penurunan pasar. BNB turun 3,34 persen dalam 24 jam terakhir dan 2,20 persen dalam sepekan, dengan harga saat ini Rp 10,2 juta per koin. Cardano (ADA) mengalami penurunan yang lebih tajam, sebesar 6,90 persen dalam sehari dan 10,10 persen sepekan, diperdagangkan pada Rp 8.601 per koin.
Solana (SOL) juga mengalami koreksi, turun 6,76 persen dalam sehari dan 1,98 persen sepekan, dengan harga saat ini Rp 2,33 juta per koin. XRP juga mengalami penurunan, melemah 4,64 persen dalam 24 jam terakhir dan 3,46 persen dalam sepekan, diperdagangkan pada harga Rp 34.453 per koin.
Dogecoin (DOGE), mengalami penurunan 6,15 persen dalam sehari dan 7,28 persen dalam sepekan, diperdagangkan pada level Rp 2.503 per token. Sebaliknya, stablecoin Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) relatif stabil, masih berada di sekitar USD 1,00, meskipun masing-masing mengalami penurunan kecil sebesar 0,01 persen dan 0,02 persen. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turun sekitar 1,98 persen dalam 24 jam terakhir, mencapai USD 3,24 triliun atau sekitar Rp 52,572 triliun.
Semester II 2025: Momen Krusial Industri Kripto
Upbit Indonesia, platform perdagangan aset kripto, melihat semester kedua tahun 2025 sebagai periode penting bagi industri kripto. COO Upbit Indonesia, Resna Raniadi, menyatakan bahwa paruh kedua tahun ini akan menguji ketahanan dan potensi industri aset digital.
Resna mencatat sejumlah sinyal positif, termasuk meningkatnya adopsi institusional, penggunaan blockchain dalam aset dunia nyata, dan perluasan aplikasi Web3 di berbagai sektor. Setelah semester pertama yang penuh optimisme, industri kini menatap semester kedua dengan ekspektasi baru.
Tiga Pendorong Utama Pertumbuhan Kripto
Resna mengidentifikasi tiga faktor utama yang akan mendorong pertumbuhan pasar kripto di semester kedua 2025. Pertama, meningkatnya keterlibatan institusi keuangan global melalui produk-produk seperti ETF berbasis kripto dan tokenisasi aset tradisional.
Hal ini bukan hanya akan meningkatkan volume transaksi, tetapi juga memberikan validasi bagi investor ritel. Kedua, peningkatan penggunaan blockchain untuk Real-World Assets (RWA). Adopsi blockchain kini meluas ke luar sektor keuangan digital, meliputi aset fisik seperti properti, surat utang, dan komoditas.
Ketiga, peningkatan efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan dan perdagangan aset. Teknologi blockchain memungkinkan cara baru yang transparan, efisien, dan tanpa batas geografis untuk mengelola dan memperdagangkan aset. Ini memberikan potensi pertumbuhan signifikan bagi industri kripto.
Perlu diingat bahwa investasi kripto bersifat spekulatif dan berisiko tinggi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Analisis dan riset yang menyeluruh sangat penting sebelum melakukan transaksi di pasar kripto.











