PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melaporkan penurunan pendapatan sebesar 7,18% pada kuartal I 2025, mencapai USD 502,16 juta dibandingkan USD 541,05 juta pada periode yang sama tahun lalu. Namun, perusahaan mencatat peningkatan yang signifikan pada profitabilitas, menunjukkan kinerja keuangan yang lebih baik di beberapa sektor.
Meskipun pendapatan menurun, laba kotor MDKA justru melonjak 73,30% menjadi USD 57,68 juta. Hal ini menunjukkan efisiensi operasional yang membaik dan kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya.
Penurunan Pendapatan, Kenaikan Laba
Penurunan pendapatan MDKA disebabkan oleh beberapa faktor. Meskipun harga emas meningkat dan berkontribusi positif terhadap pendapatan, penurunan kontribusi dari produk hilir nikel dan segmen tembaga turut mempengaruhi angka keseluruhan.
Namun, peningkatan laba kotor dan laba usaha menunjukkan bahwa MDKA mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi operasional. Laba periode berjalan pun berbalik positif, sebesar USD 2,50 juta, dibandingkan kerugian USD 9,28 juta pada kuartal I 2024.
Penjualan limonit kepada pihak ketiga juga memberikan kontribusi positif sebesar USD 24 juta terhadap pendapatan. Hal ini menunjukkan keberhasilan strategi diversifikasi pendapatan MDKA.
Kinerja Sektor Pertambangan Nikel dan Tembaga
Di sektor nikel, Tambang SCM mencatatkan peningkatan produksi limonit sebesar 54% (YoY) menjadi 1,8 juta metrik ton basah. Produksi saprolit juga naik signifikan, mencapai 1,3 juta metrik ton basah, meningkat 190% (YoY).
Meskipun curah hujan musiman mempengaruhi produksi pada kuartal tersebut, peningkatan volume keseluruhan dibandingkan periode yang sama tahun lalu menandakan pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan dalam sektor ini.
Sementara itu, produksi nikel dalam bentuk Nickel Pig Iron di pabrik peleburan RKEF mengalami penurunan 22% (YoY) menjadi 16.297 ton. Penurunan ini disebabkan oleh peningkatan bertahap di PT Bukit Smelter Indonesia (BSI) pasca perbaikan tungku dan pemeliharaan terjadwal di PT Zhao Hui Nickel (ZHN).
Pengembangan Pabrik Pengolahan
Perbaikan dan peningkatan di fasilitas BSI dan ZHN bertujuan untuk meningkatkan keselamatan, efisiensi, dan penghematan biaya jangka panjang. Perbaikan tambahan di BSI juga direncanakan pada semester kedua 2025.
Pengembangan pabrik pengolahan HPAL oleh MBMA, anak perusahaan MDKA yang fokus pada material baterai, juga mencatat kemajuan signifikan.
PT ESG, salah satu anak perusahaan MBMA, telah memulai produksi dari Train A pada akhir 2024, dengan Train B direncanakan beroperasi pada semester kedua 2025. Integrasi Feed Preparation Plant (FPP) baru juga diharapkan menurunkan biaya operasional.
PT Meiming, anak perusahaan lainnya, telah menerima Izin Usaha Industri (IUI) pada April 2025 dan melanjutkan komisioning komponen utama. PT Sulawesi Nickel Cobalt (PT SLNC) juga mencatat kemajuan konstruksi sebesar 14,35% dengan target komisioning pada semester kedua 2026.
Proyek Emas Pani dan Prospek Ke Depan
Proyek Emas Pani diprediksi akan memberikan kontribusi signifikan bagi MDKA di masa mendatang. Proyek ini telah mencapai 49% penyelesaian pada akhir kuartal pertama 2025.
Rekayasa detail telah selesai, kontrak konstruksi utama telah ditetapkan, dan kontraktor telah mulai bekerja. Komisioning ditargetkan pada akhir 2025, dengan produksi emas pertama diperkirakan pada awal 2026.
Studi kelayakan untuk fasilitas penyimpanan tailing pertama untuk proyek carbon-in-leach telah selesai. Kegiatan rekayasa, perizinan, dan perencanaan konstruksi akan berlanjut sepanjang 2025.
Secara keseluruhan, meskipun mengalami penurunan pendapatan pada kuartal I 2025, MDKA menunjukkan kinerja keuangan yang positif dengan peningkatan laba kotor dan laba usaha. Kemajuan yang konsisten di berbagai proyek strategis, terutama di sektor nikel dan emas, menjanjikan prospek pertumbuhan yang positif bagi perusahaan di masa depan. Keberhasilan MDKA dalam mengelola biaya dan meningkatkan efisiensi operasional menjadi kunci keberhasilan perusahaan ini.











